Tata Ruang Ambon Disorot, Dari Harmoni Sosial hingga Ancaman Kesehatan Mental

oleh -23 views
Penataan ruang Kota Ambon tidak lagi dipandang sekadar urusan pembangunan fisik seperti jalan, gedung, dan infrastruktur. Lebih dari itu, tata ruang yang baik dinilai menjadi fondasi penting dalam menjaga harmoni sosial, meningkatkan kualitas hidup, hingga mencegah persoalan kesehatan mental di kawasan perkotaan.

Burnout dan FOMO Mengintai Warga Kota

Dari sisi psikologis, tata ruang juga berkaitan erat dengan kesehatan mental masyarakat. Psikolog RSKD Maluku, Vebry Elizanet Wattimena, mengungkapkan masyarakat perkotaan kini menghadapi tekanan baru akibat perubahan gaya hidup.

Mobilitas tinggi, perkembangan teknologi digital, hingga budaya konsumtif disebut memicu persoalan seperti burnout, FOMO (fear of missing out), dan kesepian.

“Penanganannya harus dimulai dengan memperkuat relasi sosial, melakukan relaksasi, membangun self-talk yang positif, dan jika berlanjut, sebaiknya berkonsultasi dengan psikiater,” jelasnya.

Ia menambahkan, keberadaan ruang publik yang sehat dan inklusif menjadi kunci dalam membangun interaksi sosial yang positif sekaligus menjaga kesehatan mental masyarakat.

Ruang Publik dan Solidaritas Sosial

Baca Juga  Mojtaba Khamenei: Iran dan AS Capai Kesepakatan karena Trump Putus Asa

Sosiolog UIN Ambon, M. Asrul Pattimahu, menilai ruang publik memiliki peran strategis dalam membangun solidaritas masyarakat perkotaan.

Mengacu pada teori Emile Durkheim, ia menjelaskan masyarakat modern idealnya tumbuh dalam solidaritas organik yang menghargai keberagaman. Namun, semakin sempitnya ruang perjumpaan sosial justru berpotensi melahirkan sikap eksklusif.

“Banyak generasi muda tumbuh di lingkungan akademik, tetapi belum tentu memiliki relasi lintas agama. Ini bisa menjadi bom waktu bagi kehidupan sosial,” ujarnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.