Tentang Rindu Yang (Belum) Selesai

oleh -631 views

“Ka, tadi aku kesal sama bossku, masa iya Ka, aku disuruh ngerjain kerjaannya sales siih, kan aku juga punya kerjaan lain, Ka..” atau “Ka, aku tadi ngomel sama customer, dia ngomel balik, isss kesel banget” atau “Ka, temenin makan bakso yuk, lapar banget..” Seolah tak pernah bosan dengan sosok gadis manja sepertiku, Raka selalu mengiyakan pintaku tanpa banyak tanya.

Pelan-pelan rasa tertarikku mulai berubah menjadi sayang. Dengan kesederhanaan yang kami jalani, nama Raka mulai tertulis bebas di cerita hidupku. Mengenal keluargaku, teman-temanku, makanan kesukaanku. Aku disana untuk waktu yang lama. Mengomeli tingkah buruknya, cerewet karena sibuknya, selalu ada ketika ia butuh teman cerita. Ia, bahkan setelah cerita panjang yang kami jalani, kami tetap bersikukuh bahwa kami hanyalah teman. Titik.
Seandainya saja waktunya lebih tepat…

Baca Juga  Geely Coolray vs Chery Omoda 5 GT, Adu SUV Turbo China yang Siap Rebut Pasar Indonesia

Desember, 2021
“Na, lo ga mandi? Udah jam berapa ini? Jadi ga sih kita berangkat?” Kenalkan, Sekala Ningsih. Satu-satunya sahabat masa SMA yang masih bertahan hingga sekarang. Pagi sabtu sudah bertandang ke rumahku untuk menagih janji jalan-jalan yang kemarin sore masih semangat ku-iyakan.
“Na, lo kenapa?” Sekala bertanya setelah mendengar isakanku yang ternyata bersuara. Aku tak menyahut. Masih sibuk dengan airmata yang menetes dengan deras, hatiku sakit sekali, nyelekit.
“ssstttt.. udah udah, jangan nangis lagi. Nanti lo sakit lagi…” Sekala masih berusaha menenangkanku. Aku diluar kontrol. Isakanku makin menjadi. Aku memeluk Sekala dengan kuat. Badanku berguncang hebat. Tidak seharusnya aku begini. Di pagi sabtuku yang cerah, aku nelangsa berputus asa. Sekala tak lagi banyak bicara. Ia paham, karena apa aku begini, ia tahu dengan pasti, kenapa akhir-akhir ini sabtuku mendung sekali.

No More Posts Available.

No more pages to load.