Zulkifli Hasan, Cerutu, dan Sepiring Kenyamanan di Tengah Bencana

oleh -222 views

Ini bukan soal selera. Bukan pula perkara seseorang boleh makan enak atau tidak. Ini soal kepantasan.
Dalam kebiasaan sosial umum, makan sambil merokok cerutu di hadapan orang banyak sudah terasa ganjil bahkan norak—lebih mirip pertunjukan gaya daripada kebutuhan. Dan ketika dilakukan di tengah masyarakat yang sedang berjuang menyambung hari, keganjilan itu berubah menjadi ironi yang sulit diabaikan.

Aceh sedang tidak kekurangan simbol. Ia kekurangan empati yang konsisten. Di luar ruangan makan itu, ada warga yang masih menakar beras, masih mengeringkan kasur, masih bertanya kapan bantuan benar-benar tiba. Di situ, sepiring kenyamanan tiba-tiba terasa seperti jarak yang dipertontonkan.

Tak penting siapa yang merekam video itu atau kapan persisnya ia diambil. Video semacam itu tak butuh narasi tambahan. Ia bicara sendiri. Ia memperlihatkan bagaimana empati bisa berhenti begitu kamera dianggap selesai bekerja. Bagaimana kepedulian kadang hanya berlaku selama simbol masih dipanggul.

Baca Juga  Hakim Tolak Praperadilan Tersangka Penipuan, Penyidikan Polres Halsel Dinyatakan Sah

Aceh—dan Sumatera yang berdampak dilanda banjir bandang—tidak membutuhkan pejabat yang pandai memainkan peran. Mereka membutuhkan kehadiran yang tahu diri. Mengerti bahwa di wilayah bencana, menahan diri jauh lebih bernilai daripada memamerkan kenyamanan.

No More Posts Available.

No more pages to load.