oh, alangkah congkak kapal-
kapal melego sauh
dalam samar fajar orang asing
mengubah dermaga
jadi gelanggang
niato e manisa loto hatuhaha
sesudah itu perang alaka
sihala takabir loto nusa hitu
sesudah itu perang hitu
salawato e manahu lau nusa iha
sesudah itu perang amaiha
pipi korobane na emata lia luhu,
sesudah itu perang huamual
kekasihku, pada kadera kayu
jati yang biasa
kita duduk mendengar berita
harga cengkih dan kopra
atau gesit merebut gagang telepon
tentang siapa di antara kita me-
request lagu lawas 90an
dan karena ihwal itu sepotong
bara meletup dalam dada kita
yang dupa mengepul selembar
lenso seputih hujan disangkal
semua mantel dan jalanan kota
kita yang terbuat dari sisa arang
tetapi, lekas-lekas kau melarai:
unggun amarah hanya menyisakan
setumpuk abu
sia-sia bukan?
kekasihku, pada kadera kayu
jati yang masih menyimpan
aroma tubuhmu
aku duduk terhenyak di sela-
sela salak anjing dan riuh meriam
saat orang asing mengambil
segala, kita kehilangan seluruh
tapi sebetulnya siapa orang asing
itu? mereka yang datang dari ujung
benua
atau kita yang tercerabut dari ingatan
sejarah dan akar budaya?
tanya penyiar itu untuk terakhir
kalinya
setelah itu monolog padam
dari dalam radio kudengar
bunyi gelang kakimu
dan larik-larik lagu favoritmu,
Donna Donna Joan Baez










