Bergerak Memasuki Kota Ambon
Melihat kondisi ini, pasukan Letnan Kolonel Slamet Riyadi bergerak memasuki kota Ambon pada 4 November 1950. Dia mengambil inisiatif memimpin sendiri pasukannya dengan didampingi Kapten Kavaleri Klees menaiki panser pertama. Tiga buah panser bergerak perlahan mendekati Benteng Victoria, Ambon.
Sekitar 30 meter mendekati Benteng Victoria, persis di simpang tiga, tembakan gencar dari dalam benteng bergemuruh, diarahkan kepada iring-ringan panser TNI. Sebuah tembakan tepat mengenai periskop panser yang dinaiki Slamet Riyadi dan Klees. Hal ini membuat Klees geram dan ingin membalas tembakan dengan meriam yang terpasang di pansernya.
Klees yang merupakan mantan prajurit KNIL yakin yang menembakinya bukan TNI, melainkan pasukan RMS yang ingin mengelabui dengan mengenakan seragam TNI. Namun pendapat Klees diabaikan Slamet Riyadi dan memutuskan turun dari panser untuk memeriksa.
Tanpa memakai helm pelindung, Slamet Riyadi keluar melalui lubang pintu kubah panser. Ia berkalung teropong serta memegang owen gun kesayangannya. Sesampai di luar, dia lompat ke bawah dan berdiri tegap di samping panser, menghadap 30 meter dari Benteng Victoria.
“Dorrrr…!”
Satu peluru dilepaskan dari balik Benteng Victoria. Seketika, Slamet Riyadi roboh bersimbah darah sambil memegangi perutnya. Melihat itu, Klees memerintahkan membalas serangan. Pertempuran tak terelakkan.




