Pahlawan

oleh -49 views

Oleh: Asghar Saleh, Politisi dan Pemerhati Budaya

Sepuluh November. Penghujung tahun 1946. Di atas sebuah kereta yang melaju diam di atas debu-debu Kalkuta, Agnes tetiba menemukan semacam “panggilan”. Sebuah bisikan hati berisi ajakan agar dirinya “melayani” mereka yang terbuang. Berbilang bulan setelah itu, Agnes mengikuti kehendak hatinya. “Aku lihat orang sekarat, aku menjemputnya. Aku menemukan seseorang yang lapar, aku memberinya makanan. Dia bisa mencintai dan dicintai. Aku tidak melihat warnanya, aku tidak melihat agamanya. Aku tidak melihat apa-apa. Setiap orang apakah dia Hindu, Muslim atau Budha, ia adalah saudaraku, adik saya,” begitulah Agnes.

Agnes, lengkapnya Agnes Gonxha Bojaxhiu lahir tahun 1910 di Skopje, Makedonia. Keluarganya sederhana dan taat beragama. Tak aneh jika saat teman sebayanya menikmati kegenitan dunia, Agnes bergegas masuk biara dan dikirim ke India pada usia 19 tahun. Di Kalkuta, Agnes menyaksikan hidup yang jauh dari entitas kemanusiaan. Orang ramai terhimpit perang, bencana, wabah dan kesengsaraan. Anak-anak adalah kelompok paling menderita. Hidup seperti di ujung tanduk. Tanpa masa depan. Pendidikan dan kesehatan terabaikan. Maut mengancam laiknya drone yang mengapung di atas rumah-rumah kumuh.