Anies Baswedan: Manusia “Aneh” yang Dibutuhkan Indonesia

oleh -530 views

Oleh: Smith Alhadar, Direktur Eksekutif Institute for Democracy Education/IDe

Anies memang manusia “aneh”, entah dari mana dia memperoleh inspirasi-inspirasi besar yang tidak ada putusnya, yang membuat kita semua merasa bodoh, termasuk orang-orang yang membencinya.

DI tengah defisit moral, prestasi, dan karakter para pemimpin Indonesia hari ini, Anies Baswedan Gubernur DKI Jakarta muncul sebagai manusia “aneh”. Ia pemimpin yang bersih ketika korupsi telah membudaya di negeri ini dan nyaris tak ada pemimpin yang, langsung atau tidak langsung, tidak bersinggungan dengan korupsi.

Akar korupsi, selain budaya dan karakter buruk pemimpin, diperkuat dan diperdalam oleh oligarki. Oligarki politik dimungkinkan dan ditumbuhkembangkan oleh UU Pemilu yang diskriminatif karena membatasi akses politik rakyat.

Parliamentary threshold 4% dan presidential threshold 20% membuat jutaan suara warga negara yang manyalurkan aspirasinya ke partai politik yang tidak masuk parlemen hilang percuma dan calon pemimpin pilihan publik tak dapat ikut berkontestasi dalam pemilu.

Baca Juga  Sejarah Integrasi dan Luka Agraria: Suara Sultan Ternate Menggema di DPD RI

Tapi bukan hanya parpol (pembentuk oligarki politik) yang menentukan proses pencalonan pemimpin dalam pemilu, tapi juga para pemodal (pembentuk oligarki ekonomi). Dus, koalisi dua kekuatan inilah yang menentukan dinamika politik tanah air.

No More Posts Available.

No more pages to load.