Oleh: Lukas Luwarso, Jurnalis Senior, Kolumnis
HAMPIR sebulan invasi Rusia ke Ukraina telah berlalu, agresi militer untuk menumbangkan pemerintahan Volodymyr Zelenskyy masih berlanjut. Invasi per-24 Februari ini belum membuahkan hasil. Ukrania terus melawan, menolak tunduk pada agresi yang berdalih “agar Ukraina tidak ke NATO,” dan sejumlah dalih akal-akalan lain.
Selain korban militer, sedikitnya 800 warga sipil meninggal, 60 diantaranya anak-anak, dan 1300 luka-luka sebagai korban kolateral. Korban kesia-siaran perang akibat paranoia Vladimir Putin, diktator yang berambisi membangkitkan kembali istana pasir “keadidayaan Rusia’. Berilusi untuk “menyeimbangkan geo-politik dunia”; membuat tata dunia yang lebih adil dari ancaman imperialisme Amerika dan sekutunya (NATO).
Putin memakai dalih mulia (noble excuse) untuk aksi agresinya. Dan para pemuja Putin, yang banyak jumlahnya di Indonesia, terpukau oleh retorika “ura”, seruan perang Putin yang viral bergema di media sosial. Para pemuja Putin, seperti terlihat di percakapan media sosial, memviralkan foto-foto Putin sebagai sosok heroik, gagah berani, dan “pejuang keadilan”. Pemuja Putin adalah para pemuja perang, dan memahami dunia sebagai panggung kisah perang “kebaikan melawan kejahatan.” Kali ini Rusia dan Putin adalah “Rambo” pejuang dan Ukraina adalah pecundang.









