Aksi Saling Gempur Bikin Myanmar Jadi Mirip Zona Tempur

oleh -35 views
Link Banner

Porostimur.com | Yangon: Kekerasan yang kian meningkat oleh pihak junta militer membawa sejumlah kota Myanmar diberlakukan darurat militer. Kota terbesar di Myanmar, Yangon berubah bak zona pertempuran dengan pemandangan kepulan asap di langit-langit kota hingga membuat para penduduk mengalami trauma dan melarikan diri dari lokasi tersebut.

Seperti dilansir AFP, Rabu (17/3/2021), sejak hari Minggu (14/3) waktu setempat, junta memberlakukan darurat militer di Hlaing Tharyar dan di kota-kota lainnya, yang menempatkan hampir dua juta orang di bawah kendali penuh komandan militer. Banyak penduduk melarikan diri, sementara mereka yang tetap tinggal melaporkan adegan yang mirip dengan kondisi perang.

“Ada tembakan terus-menerus sepanjang malam dan kami tidak bisa tidur,” kata seorang warga kepada AFP, sembari menambahkan bahwa orang-orang khawatir karena takut menjadi sasaran pasukan keamanan.

Baca Juga  Polres Kepulauan Sula Launching Kawasan Wajib Masker di Lokasi Wisata

Sejumlah pengunjuk rasa anti-kudeta bahkan berkemah di jembatan menuju ke jalan utama kota, sambil mengenakan helm pelindung, masker gas, dan membawa tameng rakitan pada Selasa (16/3) malam waktu setempat. Mereka juga memasang barikade yang terbuat dari ban, kayu, karung pasir dan tiang bambu.

Link Banner

Beberapa dari barikade itu terbakar, menyebabkan asap hitam tebal membumbung di atas jalan-jalan yang kini mulai sepi. Sejumlah pengunjuk rasa melemparkan bom bensin ke pasukan keamanan, sembari bersembunyi di balik tameng rakitan.

Di daerah pemukiman di kota lainnya, sebuah rekaman video yang diverifikasi oleh AFP menunjukkan tembakan-tembakan terus dilepaskan tanpa henti dalam kurun waktu sekitar 15 detik.

Baca Juga  NDC dan Komunitas Lebe Bae Bersih Sampah di Laut Talake

Arus informasi mulai melambat karena junta militer membatasi penggunaan internet sejak Senin (15/3) dini hari. Bahkan setiap malam, selama 8 jam, akses internet mati total.

Menurut kelompok pemantau lokal, Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik, lebih dari 200 orang tewas dalam kerusuhan anti-kudeta.

Insiden itu membuat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengutuk kematian demonstran di Myanmar, dan menambahkan bahwa mereka mengkhawatirkan laporan penyiksaan dan kematian bagi mereka yang ditahan.

“Jumlah korban tewas melonjak selama sepekan terakhir di Myanmar, di mana pasukan keamanan telah menggunakan kekuatan mematikan secara agresif terhadap pengunjuk rasa damai,” kata juru bicara kantor hak asasi PBB Ravina Shamdasani kepada wartawan.

“Laporan penyiksaan yang sangat menyedihkan di dalam tahanan juga telah muncul.”

Baca Juga  Bahas Perkembangan Pilkada Serentak 2020, Kapolda Maluku Pimpin Rapat Bersama Polres Jajaran

Dalam beberapa pekan terakhir, dilaporkan setidaknya lima kematian dalam tahanan terjadi. Ditambahkan bahwa “setidaknya dua tubuh korban telah menunjukkan tanda-tanda penganiayaan fisik yang parah yang menunjukkan bahwa mereka disiksa.”

(red/detikcom)