Dampak tersebut berupa potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di beberapa wilayah, termasuk Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, dan Papua.
Selain hujan, sistem siklon ini juga mempengaruhi kondisi gelombang laut di sejumlah perairan Indonesia timur.
BMKG mencatat tinggi gelombang laut kategori sedang, yakni antara 1,25 hingga 2,5 meter, berpotensi terjadi di perairan Kepulauan Sangihe–Talaud, Laut Maluku, serta Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya hingga Papua.
Sementara itu, gelombang dengan kategori tinggi, yakni antara 2,5 hingga 4 meter, diperkirakan terjadi di Samudra Pasifik utara wilayah Maluku.
Berasal dari Bibit Siklon 95W
Siklon Tropis Nuri diketahui berkembang dari Bibit Siklon Tropis 95W dan mencapai intensitas badai tropis pada 11 Maret 2026 di wilayah Samudra Pasifik utara Papua.
Menurut Pusat Peringatan Topan Gabungan atau Joint Typhoon Warning Center (JTWC), dalam enam jam terakhir sistem ini bergerak ke arah timur dengan kecepatan sekitar 11 kilometer per jam atau 6 knot.
Tinggi gelombang signifikan maksimum yang tercatat mencapai sekitar 4,3 meter atau 14 kaki.
Ke depan, Nuri diperkirakan akan bergerak ke arah timur laut dalam dua hari ke depan. Selama pergerakan tersebut, interaksi dengan massa udara yang lebih dingin dan kering di bagian barat laut diperkirakan akan melemahkan sistem badai.









