Blokade yang Datang Terlambat

oleh -90 views
Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Logikanya sederhana. Bahkan terlalu sederhana. Jika Iran tidak mau tunduk, maka sekalian saja jalur hidupnya diputus. Leher ekonominya, Selat Hormuz, dicekik.

Semua kapal — termasuk kapal Iran — diblokade. Laut dijadikan pagar besi. Siapa yang mencoba menembus, akan berhadapan dengan armada Amerika.

Di atas kertas, ini terlihat seperti langkah tegas. Dalam kenyataan, ini lebih mirip menutup pintu kandang setelah kudanya kabur jauh ke padang.

Selat Hormuz memang bukan selat biasa. Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur ini. Menguncinya berarti mengguncang dunia. Harga minyak akan melonjak. Ekonomi global akan tersengal. Sekutu Amerika sendiri akan menjerit.

Namun, di sinilah kecerdikan Iran tidak tampil dalam pidato, melainkan dalam angka—angka yang dingin, tetapi mematikan secara strategis.

Baca Juga  Kades Pulau Gala Bawa-bawa Retreat dan Bupati Cup, Kadis PMD Halsel Bongkar Fakta

Penilaian terbaru dari lembaga pelacak energi seperti DropSite dan diperkuat oleh analisis maritim lain menunjukkan bahwa Iran tidak sekadar sudah mengirim minyak, tetapi telah “memindahkan medan perang”.

Sekitar 174 juta barel minyak Iran telah dialihkannya ke penyimpanan terapung di laut — bukan lagi di pelabuhan yang mudah diblokade.

Angka ini bukan angka kecil. Ia setara dengan sekitar 80 hari ekspor Iran berkelanjutan, bahkan jika seluruh pelabuhan Iran benar-benar ditutup. Artinya, tanpa menembakkan satu peluru pun, Iran sudah mengamankan napas ekonominya selama hampir tiga bulan ke depan.

No More Posts Available.

No more pages to load.