Blokade yang Datang Terlambat

oleh -104 views
Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Laut menjadi ruang abu-abu, di mana hukum internasional, teknologi, dan kepentingan bertemu dalam ketidakpastian. Di titik ini, blokade bukan lagi alat pencekik. Ia berubah menjadi tontonan mahal.

Amerika harus mengerahkan armada, menghabiskan miliaran dolar, menjaga jalur laut yang luasnya tak terhingga. Sementara Iran cukup menunggu — karena barangnya sudah di luar jangkauan.

Dan dunia? Dunia akan membayar harga yang lain. Harga minyak naik. Inflasi bergerak. Sekutu Amerika — dari Jepang hingga India — akan ikut merasakan dampaknya. Bahkan pemilih di dalam negeri Amerika sendiri akan melihatnya di papan harga SPBU.

Di sinilah pepatah lama Persia itu menemukan relevansinya kembali: “چاه کن همیشه ته چاه است” — siapa yang menggali lubang, sering kali lupa bahwa ia berdiri di tepiannya sendiri.

Blokade itu mungkin diumumkan dengan suara keras. Tetapi realitasnya kapal-kapal Iran sudah bergerak lebih cepat, lebih sunyi, dan lebih cerdik.

Baca Juga  Protes Pemindahan Sidang Eks Brimob Maut ke Ambon Memanas, Kapolres Tual Diteriaki “Pembohong”

Dalam geopolitik modern, kemenangan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang paling kuat. Kadang, ia ditentukan oleh siapa yang paling duluan bersiap.

Dan dalam kasus ini, kuda itu bukan hanya sudah keluar kandang — ia sudah sampai tujuan, membawa muatan, dan meninggalkan debu bagi yang datang terlambat.

No More Posts Available.

No more pages to load.