Ketika akhirnya memutuskan maju dalam Pilkada 2024 dan menang, publik melihatnya bukan sebagai pendatang baru, tetapi sebagai figur transisi yang telah lama akrab dengan persoalan kota.
Dari Penjabat ke Wali Kota Definitif
Sebelum resmi terpilih sebagai wali kota, Bodewin lebih dulu ditunjuk sebagai Penjabat Wali Kota Ambon sejak Mei 2022. Masa jabatannya kala itu menjadi semacam “masa percobaan” yang menampilkan gaya kepemimpinannya: tenang, teknokratis, dan tidak gemar retorika politik.
Alih-alih tampil populis, ia memilih menata fondasi kota secara diam-diam namun strategis—mengurus kawasan kumuh, menata sistem drainase, merapikan pelayanan publik, hingga memperbaiki wajah kota yang sempat kehilangan sentuhannya.
Di bawah arahannya, Ambon terus melanjutkan transformasi sebagai Smart City, sambil mempertahankan statusnya sebagai City of Music UNESCO—sebuah keseimbangan antara inovasi dan budaya lokal yang tidak mudah dicapai.
Tantangan Lama, Pendekatan Baru
Sejak dilantik sebagai wali kota definitif awal 2025, Bodewin menghadapi beragam tantangan akut: kemiskinan, pengangguran, tata kota yang belum ideal, hingga sampah dan banjir yang terus berulang. Tapi tantangan terbesar justru berada di ranah sosial: bagaimana merawat kohesi pasca-konflik, membangun kepercayaan antar komunitas, dan mencegah trauma sejarah diturunkan ke generasi berikutnya.









