Menurutnya, pengembangan industri tersebut harus diikuti dengan regenerasi pelaku usaha sehingga tidak hanya bertumpu pada pengusaha yang telah lebih dahulu berkecimpung di bidang tersebut.
“Kita coba bagaimana pengembangan pengusaha-pengusaha batik, supaya ada SDM-SDM baru yang bisa terjun di situ. Kita berharap ada Batik Bacan yang khas dan bisa menjadi oleh-oleh dari Halmahera Selatan,” jelasnya.
Selain batik dan pengolahan pangan, sektor perbengkelan juga mendapat pembinaan melalui pelatihan serta dukungan peralatan untuk menunjang kegiatan usaha.
Dorong Akses Modal dan Pendampingan Berkelanjutan
Izzuddin mengakui akses pasar dan permodalan masih menjadi tantangan bagi masyarakat yang ingin memulai maupun mengembangkan usaha.
Karena itu, kegiatan tersebut turut melibatkan pihak perbankan untuk memberikan pemahaman kepada peserta mengenai skema pembiayaan usaha, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Menurutnya, peluang memperoleh pembiayaan bagi pengusaha baru cukup terbuka, namun tetap harus mengikuti persyaratan dan mekanisme yang ditetapkan pihak perbankan.
“Peluangnya besar, terutama bagi pengusaha baru. Tetapi tentu harus sesuai mekanisme, seperti memiliki NIB dan memperhatikan riwayat kredit bagi yang pernah mendapatkan pinjaman,” katanya.











