Padahal negara bukan panggung popularitas. Indonesia terlalu besar untuk dipimpin hanya dengan modal keterkenalan.
Dan jika kelak “dari Mulyono ke Mulyadi” benar-benar menjadi kenyataan, pertanyaan yang lebih penting bukanlah siapa Mulyono dan siapa Mulyadi. Pertanyaannya adalah: apakah kita sedang memilih seorang pemimpin, atau sekadar mengulang cara yang sama dalam memilih pemimpin? (**)










