Data Besar, Nasib Berceceran

oleh -52 views
Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Negara maju mengubah data menjadi tambang ekonomi raksasa. Kita justru membiarkan data budaya, data pendidikan, data sosial, data bahasa, bahkan data keagamaan berserakan seperti barang bekas di gudang proyek.

Kita punya ulama besar, tetapi ceramahnya hilang di harddisk rusak. Kita punya manuskrip kuno, tetapi belum selesai dipindai. Kita punya bahasa daerah ratusan, tetapi banyak belum punya korpus digital. Kita punya tradisi intelektual panjang, tetapi mesin AI global lebih mengenal meme TikTok daripada khazanah Nusantara.

Sementara itu dunia berlari seperti kereta peluru. Dan yang paling menyedihkan: kita sering merasa modern hanya karena ramai di media sosial, padahal data kita sendiri tidak pernah sungguh-sungguh kita kelola.

Baca Juga  Final Piala FA: Manchester City Lebih Dijagokan, Chelsea Bertekad Selamatkan Musim

Akhirnya kita hanya menjadi pasar. Bukan pemain. Menjadi pengguna. Bukan pengendali.

Elon Musk mungkin berubah-ubah pendapat tentang AI. Hari ini bilang bahaya, besok bilang masa depan cerah. Tetapi satu hal yang dipahaminya tidak berubah: siapa menguasai data dan infrastrukturnya, dialah yang memegang tuas kekuasaan baru dunia.

Dan di tengah perebutan global itu, kita masih sering memperlakukan data seperti sampah administrasi.

Padahal mungkin, di tumpukan server yang berdebu, di harddisk kampus yang nyaris rusak, di arsip pesantren yang belum dipindai, di rekaman bahasa daerah yang belum pernah ditranskripsi, di situlah sesungguhnya harta karun peradaban kita sedang menunggu diselamatkan.

No More Posts Available.

No more pages to load.