Di Balik Tafsir Faidh al-Rahman; Sebuah Rekonstruksi Hari Kartini

oleh -185 views

Bayangkan adegan itu: Seorang putri bupati, yang terkurung pingitan, merengek pada pamannya seperti anak kecil, hanya untuk mengejar seorang guru. “Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” kalimat itu tajam, menyayat, sekaligus jujur.

Selama itu, bagi Kartini, Islam adalah “kegelapan”—bukan karena agamanya, melainkan karena tabir bahasa yang dibentengi oleh dogma kolonial. Ia hafal Al-Fatihah, tapi meraba-raba dalam makna. Ia adalah pencari yang lapar, terasing di tanah kelahirannya sendiri, dicekoki hafalan tanpa makna.

Dialog di Demak itu adalah titik balik. Ketika Kiai Sholeh Darat menerjemahkan Al-Fatihah ke dalam bahasa Jawa, yang terjadi bukan sekadar transfer bahasa, melainkan wahyu personal. Kartini menemukan “cahaya”. Ia menemukan bahwa Islam bukanlah penjara, melainkan bimbingan kebahagiaan.

Baca Juga  Paus Leo XIV Tegaskan Perang AS dan Israel terhadap Iran Bukan “Perang yang Adil”

Di balik surat-surat yang kerap dipandang sekuler, ada perjalanan spiritual yang sunyi. Kartini—yang kerap dicitrakan hanya mengagumi Eropa—justru menemukan akar sejatinya pada ayat “Minadh-dhulumati ilan-nuur” (dari gelap menuju cahaya), yang dipahami melalui Kitab Faidhur-Rohman, sebuah kitab tafsir yang ditulis dengan aksara Arab Pegon untuk mengelabui mata penjajah.

No More Posts Available.

No more pages to load.