Maka, “Door Duisternis Tot Licht”—Habis Gelap Terbitlah Terang—bukanlah sekadar kutipan dari buku-buku Belanda. Ungkapan itu adalah kristalisasi perjumpaan Kartini dengan nurani agamanya. Ia menemukan pencerahan justru ketika ia memahami Tuhan dalam bahasanya sendiri.
Puncaknya, Kartini, sang bangsawan, justru ingin menanggalkan gelarnya. Ia tidak ingin menjadi “setengah Eropa”. Ia menulis, “Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah.”
Di hari Kartini ini, mari kita berhenti sejenak dari pemujaan simbolis kebaya. Mari kita rayakan Kartini sebagai seorang pemikir yang utuh, seorang perempuan yang menemukan kemerdekaannya bukan dengan membuang agamanya, melainkan dengan menyelami kedalamannya.
Kita berhutang pada Sosrokartono, kakak yang menjadi jembatan. Kita berhutang pada Kiai Sholeh Darat, sang penerang. Dan kita merayakan Kartini yang sesungguhnya: Kartini yang tak lagi tersesat dalam gelap, tapi berjalan menuju cahaya. (**)









