Kritik Tajam dari Aktivis dan Netizen
Unggahan tersebut memicu reaksi keras, salah satunya dari advokat perempuan Tual, Istia Gani Renleuw. Istia mengunggah tangkapan layar status Rahmi dan menyebut pernyataan tersebut tidak berempati terhadap keluarga yang sedang berduka.
“Bukannya jadi pengalaman par benahi kamong pu kinerja kedepan malah suruh masyarakat par ambe pelajaran… Padahal balap liar itu jenis pelanggaran yang sekalipun terbukti, sanksinya kurungan dan denda, bukan tindak di tempat atau pukul kasi mati,” tulis Istia.
Ia bahkan menutup komentarnya dengan kalimat tegas, “Kalau sudah tidak punya empati, minimal diam.”
Istia juga merinci lima poin kritik, mulai dari tudingan kurangnya empati, sikap arogan dalam unggahan, hingga mendesak agar Rahmi meminta maaf secara terbuka kepada keluarga korban.
Datangi Rumah Duka dan Minta Maaf
Di tengah derasnya kritik, Rahmi akhirnya menyampaikan permintaan maaf. Ia membalas langsung komentar Istia dengan menyatakan penyesalan atas status yang dibuatnya.
“Beta status fb atau bahkan story fb buat sampai kakak sebagai keluarga korban tersinggung ini sebelumnya beta minta maaf ee kakak… Beta sangat-sangat minta maaf,” tulisnya.
Tak berhenti di media sosial, Rahmi juga mendatangi langsung rumah duka di kawasan Mangon, Mangga Dua, Kota Tual. Ia datang tanpa mengenakan pakaian dinas dan bertemu dengan ayah korban, Rijik Tawakal. Dalam pertemuan tersebut, Rahmi menyampaikan permohonan maaf secara langsung dan keluarga korban menerima permintaan maaf tersebut.









