Donci For Mama

oleh -57 views
Link Banner

(Perempuan Ambon Dalam Lagu)

Oleh: Asghar Saleh, Politisi dan Pemerhati Budaya

Jika sebuah novel dibuatkan film dan menjadi viral di Korea Selatan, pasti ceritanya luar biasa. Saya penasaran. Lalu membeli novelnya. Membaca dan juga menonton filmnya yang disutradarai Kim Do-young. Novel dan film ini bercerita tentang perempuan yang dimarjinalkan. Jelas menarik karena Korea adalah negara maju. Ekonominya mapan. Gaya hidup masyarakatnya tercermin dari lagu K-pop atau film – film Korea yang meledak dimana mana. Sangat jarang ada kisah sedih. So, apa yang menarik dari novel dan film Kim Ji-Yeong, “Born 1982” yang heboh itu?.

Film adaptasi novel karya Cho Nam-joo ini ramai diprotes mayoritas laki-laki disana. Mereka bahkan membuat petisi yang meminta Presiden membatalkan ijin tayang film ini. Instagram milik Jung Yu-mi, aktris pemeran utama dibanjiri ribuan kecaman dari penggemar laki-laki. Kecaman juga bertebaran di media sosial milik bintang Korea lainnya yang ketahuan membaca buku atau menonton film ini. Pokoknya haram.

Novel yang diterbitkan tahun 2016 ini isinya bercerita tentang kehidupan sehari hari seorang perempuan Korea. Plotnya sederhana. Tak ada intrik. Semuanya mengalir. Namun itulah kekuatannya. Kim Ji-young lahir normal. Punya satu adik laki laki. Sejak kecil Ia mesti tumbuh dengan banyak aturan untuk mengalah. Soal makan misalnya, Ji-young hanya dapat jatah “sisa”. Yang utama dilayani adalah adiknya. Di sekolah, Ia juga dipersekusi. Banyak pengalaman tidak enak selama bersekolah.

Link Banner

“Penderitaan” bahkan terus dirasakan saat kuliah dan bekerja. Karena telah menikah dan akan punya anak, Ji-young tak mendapat promosi. Aturan kerja menuntut produktifitas total dan itu wilayah laki laki. Hebatnya, Ia tak marah atau protes sana sini. Semua dijalani apa adanya. Dalam novel maupun film, batas antara laki laki dan perempuan dalam kehidupan Korea sangat jelas. Diskriminasi jadi cermin yang setia memantul. Selalu menekan perempuan. Makanya novel ini direspons negatif. Para laki laki merasa ditelanjangi. Mereka lalu membuat novel baru – Kim Ji-hoon 1990 – untuk menegaskan bahwa mereka juga jadi korban diskriminasi.

Saya membayangkan Ji-young pasti tak akan menderita jika hidup di tanah Maluku. Kosmologi orang Maluku sangat menghormati perempuan. Apalagi jika statusnya sudah menjadi “Mama”. Antropolog Maluku, Rudi Rahabeat menyebut penghormatan itu dibumikan dalam nama benda atau penunjuk yang menandakan perempuan adalah “terhormat”. Pulau Seram yang merupakan pulau terbesar di wilayah Maluku dinamakan Nusa Ina (Ina sama dengan perempuan). Dalam interaksi budaya lokal, penghormatan terhadap “mama” diabadikan dalam lagu. Jika punya koleksi lagu-lagu Ambon sebanyak 100 lagu, setengah dari jumlah itu pasti adalah lagu-lagu yang bercerita tentang “mama”. Ada romantisme yang dipelihara dalam lirik dan musik.

Baca Juga  Kudeta

Generasi 80an tentu familiar dengan lagu Sio Mama ciptaan Melky Goeslaw atau Donci For Mama yang dipopulerkan Broery Pesolima. Lalu dekade 90 dan seterusnya melahirkan lagu Mama ciptaan Jerry Sapteno yang dipopulerkan Loela Drakel. Ada juga lagu berjudul Pangku Mama, Inga Mama Pung Kata Kata, Mama Beta Rindu Lawang E, Karingat Mama, Mama Jantong Hati, Untuk Mama hingga Satu Tetes Aer Susu Mama yang hits bersama Doddie Latuharhary. Selain ini, ada banyak sekali lagu Ambon yang bercerita tentang “mama” sebagai episentrum peradaban. Simbol “mama” selalu sederhana namun sangat mempengaruhi memori hidup dan melintasi waktu. Ada pengakuan yang abadi.

deng kain sarung mama dukung beta e
tangan mama sapu sapu di kapala
manangis padede deng babanting
Mama sabar……
seng inga makan seng tidor
asal jaga mama pung sayang e

(Satu tetes Aer Susu Mama)

“Mama” adalah sumber utama kehidupan. Ia memainkan peran dan fungsi yang sangat aktif dalam merawat kehidupan. Rudi Rahabeat menyebut, peran seorang “mama” juga termanifestasi dalam penyebutan gandong atau kandung. Ada relasi keluarga dan sosial yang imajiner. Judit Tiwery, dosen pada Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (STKAN) Ambon mengakui bahwa orang Maluku sangat menghayati identitas mereka yang terbangun atas tatanan naratif kehidupan melalui peran para leluhur (alifuru ina) sebagai “Ina” yang inklusif. Ina yang melahirkan dan memberi kehidupan tanpa pamrih.

sambil mama bakar sagu
mama manyanyi la buju buju
la sampe basar bagini
beta tra lupa mama e

(Sio Mama)

Figur “mama” juga ditahbiskan sebagai representasi Tuhan dalam kehidupan. Sakral dan dijaga. Banyak sekali lagu tentang “mama” yang berhubungan secara tegak lurus dengan kuasa Sang Pencipta. Ada penyerahan diri. Kadang lagu-lagu itu jadi sarana melepas beban hidup, rindu kampung halaman atau menjadi pengingat tentang pentingnya relasi kekeluargaan dalam frame “pela gandong”.

Baca Juga  Kementerian PUPR Rampungkan Renovasi RSUD dan Pasar Tulehu Maluku Tengah yang Rusak Akibat Gempa

asal saja Tuhan sayang
kasih katorang umur panjang
sio mama……
katorang cinta dorang samua

(Donci For Mama)

Tradisi menjaga “mama” ini bahkan berdampak pula pada penempatan perempuan sebagai penguasa tunggal di rumah. Mama Nyora adalah gelar kebangsawanan yang menunjukan loyalitas dan kesetiaan. Hanya ada satu “mama”. Begitu juga biasnya pada kehidupan “nona-nona”. Mereka ikut dihormati dan ada kesan kuat tak akan disakiti. Mungkin karena kelak mereka akan jadi mama yang sumber kehidupan itu. Dalam lagu Parcuma misalnya yang dipopulerkan oleh Nanaku, ketidakpastian masa depan membuat laki-laki mengalah dan menyerahkan urusan hidupnya pada keputusan sang “nona”. Sebuah melodi gender yang jarang ditemukan dalam budaya di tempat lain.

“kalo ada yang mo maso minta. nona tarima saja. jang ale pikir beta lai”.

Dalam perspektif yang lebih milenial, jika hubungan cinta terpaksa berakhir, cara menyampaikannya juga dibuat seromantis mungkin. Tentunya lewat lagu. “seng usa…seng usa inga lai. katong pu cinta dolo dolo di jalan maso batu gong. Seng usa…seng usa manangis lain. ini memang katong pung jalan….”. (Seng Usa lai dari Doddie). Belum lagi pemujaan terhadap nona lewat” Caca Kerudung Biru” nya Helmy Sahetapy yang memabukkan itu atau “Cinta Sakota” punya Mitha Talahatu.

Saking hormatnya pada “mama” sebagai representase kebaikan perempuan yang tanpa cacat, perilaku perempuan Ambon yang tak sama dengan mama juga dibuatkan lagu. Satirenya sangat genit. Ada batas antara mama dan bukan mama. Gambaran mama yang memakai kabaya, suka berdendang sambil membujuk, tempat berkeluh kesah, rajin bekerja dan jadi bagian penting dari cinta Tuhan tak ditemukan dalam lagu yang dinyanyikan Corr Tetelepta ini.

oh yakomina elo elo
ale pung gaya ta ero ero
katong samua dapa tipu e
deng se pung rok pende
dapa lia paha e

oh yakomina elo elo
biking beta seng dapa sono
dimana mana orang carita se
su ana lima
tapi gaya ana muda e

(Nona Yakomina)

Eksistensi lagu-lagu Ambon yang begitu menghormati perempuan menjadi anti tesa jika diperhadapkan dengan fenomena musik kekinian yang banyak mengeksplorasi posisi perempuan sebagai entitas yang lemah. Dikte industri musik kita yang dimonopoli koorporasi besar seperrti Sony, BMG Music Entertainment, Warner Music Group dan EMI Group memang memaksa industri musik bermain pada bisnis yang “merendahkan” perempuan. Parahnya, kapitalisme model ini mendapat sambutan pasar yang signifikan.

Baca Juga  "Ruang Juara": Melompat dari Ruang Paripurna ke Ruang Publik

Jadilah lagu popular didominasi tema-tema yang merendahkan itu. Perempuan adalah obyek yang menderita, jadi simbol seks, pasif dan tak punya kuasa. Sedangkan laki laki dinarasikan sebagai hero. Simak lagu” Madu Tiga”nya Ahmad Dhani, “Telat Tiga Bulan” punya Jamrud atau lagu lagu seperti Cinta Satu Malam, Hamil Duluan, Mobil Bergoyang, Wanita Lubang Buaya hingga Paling Suka 69 punya Julia Perez. Yang menyesakkan, sebagian besar lagu lagu ini dipopulerkan oleh penyanyi perempuan.

Benarlah kata Edgar Allan Poe, penyair sekaligus kritikus Amerika, “the death of beautiful woman is unquestionably, the most poetical topic in the world”.

Melalui lagu, orang Ambon sejatinya tengah merawat hegemoni perempuan sebagai sumber kehidupan. Mereka menolak upaya merendahkan perempuan. Tak juga berjuang secara atraktif menuntut kesetaraan karena posisi perempuan dalam kosmologi lokal dikonstruksikan lewat figur mama yang sejak dulu berkedudukan lebih tinggi. Mama adalah “moral fortess” yang terus dirawat dalam lagu dan ingatan. Ia istimewa dan tak tergantikan.

Sir Wiliam Golding, penulis kelahiran Inggris yang memenangkan Nobel Sastra tahun 1983 memberi sebuah provokasi hebat dengan menyebut, “Kupikir perempuan itu bodoh bila berlagak bahwa Ia setara dengan laki-laki. Perempuan jauh lebih hebat sejak dulu. Apapun yang kau berikan, Ia akan membuatnya jadi lebih besar. Kau beri Ia setetes mani, Ia akan memberimu bayi. Kau beri Ia bangunan, Ia akan memberimu rumah tangga. Jika Ia kau beri belanjaan, Ia akan membuatkan makanan. Jika kau beri Ia satu saja senyuman, Ia akan memberimu hatinya. Perempuan melipatgandakan dan membesarkan apa saja yang diberikan kepadanya. Jadi, kalau kau memberinya sampah, bersiaplah untuk menerima satu ton kotoran”. (*)