Dua Puisi Nuriman Bayan

oleh -69 views

=============


Cara Paling Sopan Membunuh Harapan

​Di Jakarta, angka-angka belajar memakai dasi
mereka melipat tiga miliar menjadi satu
lalu menyapunya ke bawah karpet bernama ‘DIPA’.

Di layar monitor yang bersinar tenang
sebuah tombol dipencet, terblokir
di ujung pulau, sebuah rumah berhenti tumbuh.

​Semen yang belum kering di dinding setengah jadi
tiba-tiba lupa cara menjadi tempat berteduh
di garasi kecil, sebuah sepeda motor
menghitung belasan cicilan yang tersisa
dengan cemas yang diajari oleh mesin ketik negara.

​Kalian adalah orang-orang yang mengajari pagi cara tersenyum
sebelum anak-anak datang membawa cita-cita
kalian memunguti dedaunan yang gugur dari pohon
tetapi negara memungut tahun-tahun terbaik kalian
dan membuangnya ke dalam keranjang sampah bernama efisiensi.

Baca Juga  Wai Riuwapa Tiga Tahun Digali, Debu Ganggu Puskesmas Kairatu

​“Tidak ada PHK,” kata surat kabar di meja menteri
tetapi di lembah ini, dua belas orang berjalan pergi
tanpa perlu didorong
sebab perut yang lapar tidak bisa diberi makan
dengan pasal-pasal yang hangat.

​Kini, kopi di meja kita pelan-pelan mendingin
ia kehilangan aroma gelak tawa dan diskusi yang cemas
kita yang tertinggal di dalam gedung ini
hanya bisa belajar satu hal dari birokrasi

bahwa cara paling sopan untuk membunuh seseorang
adalah dengan tidak memberinya nama di halaman anggaran.

No More Posts Available.

No more pages to load.