Pendidikan baginya perlu terus dikembangkan dengan memperkuat literasi. Hal ini ia praktikkan sejak muda. Banyak buku ia baca, ia analisis dan dijadikan acuannya untuk memahami persoalan yang terjadi di sekitarnya. Semangat belajarnya sangat tinggi; ia akan beristirahat tepat jam sembilan malam dan kembali membaca setelah bangun dan shalat Subuh. Bahkan menjelang ujian doktoral lengkap, ia rutin belajar hingga pukul sepuluh malam dengan tetap bangun sebelum waktu Subuh tiba.
Lafran dinobatkan sebagai Guru Besar (Profesor) Ilmu Tata Negara di IKIP Yogyakarta berdasarkan Keputusan Presiden 1 Desember 1966. Usul pengangkatannya sebagai Guru Besar disampaikan pada 1 September 1964 namun pidato pengukuhannya baru terlaksana di hadapan Sidang Senat Terbuka IKP Yogyakarta pada 16 Juli 1976, dengan judul Perubahan Konsitusional. Sebelum menjabat sebagai Dewan Pertimbangan Agung (DPA) periode 1988-1993, ia pernah dipercaya sebagai Pembantu Dekan FKIS IKIP Yogyakarta, Pengurus Badan Wakaf UII Yogyakarta.
Ia menikah dengan Martha Dewi pada 6 Oktober 1951. Dari pernikahannya dengan perempuan asal Krui Lampung ini Lafran dikarunia tiga orang anak: Toga Fachruddin Pane, Muhammad Iqbal Pane, dan Tetti Sari Rakhmiati Boru Pane. Setelah istri pertamanya meninggal, Lafran menikah untuk kedua kalinya dengan Bisromah pada awal 1990.









