Fragmen Itu Bernama Kamu

oleh -2 Dilihat

Tertekan. Begitulah kesan pertama di masa putih abu-abuku. Mereka sama saja, tak pernah memperlakukanku seperti manusia. Mereka menganggapku gadis gila, idiot dan sebagainya. Semua bermula saat aku menceritakannya kepada Rahma—teman sebangkuku tentang kemampuan aneh ini, kemampuan yang mau tidak mau memaksaku tidak bisa tidur dengan nyenyak, gelisah setiap saat, dan parahnya membuat diriku dijauhi mereka.

Aku bisa melihat masa lalu dan masa depan seseorang, kejadian yang akan terjadi ke depannya. Mudah saja, saat aku melamun fragmen-fragmen kejadian itu muncul bagai layar iklan yang kutonton. Namun, mereka tidak ada yang percaya, termasuk orangtuaku. Hingga aku bertemu dengannya, mengenalnya.

Namanya Bian Rudi, dan aku senang memanggilnya Biru selain karena singkatan nama panjangnya, Biru adalah nama yang cocok untuk lelaki yang khas dengan jaket warna biru lautnya. Biru, hanya pemuda itu yang menganggupku normal, memperlakukanku sebagai manusia biasa. Kali pertama kita bertemu, aku menemukannya di lorong depan perpustakaan membaca buku tebal tentang flora dan varietas pohon.

Baca Juga  PPPK SBB Dikaitkan dengan Pengelolaan Media, Sekwan dan Inspektorat Diminta Buka Data

“Tidak ada yang aneh dengan kemampuanmu, bukannya itu terlihat keren ya?”
Hanya itu komentarnya di saat aku merasa terkucilkan. Bahkan, Biru sering memintaku untuk melihat masa depannya, entah sekadar bergurau atau apa. Tapi nihil, hanya dia yang tak mampu kulihat masa depan atau masa lalunya. Saat ini, kami berada di podium, aku menemaninya membaca buku, sekolah sudah sepi sejak dua jam yang lalu tapi aku enggan untuk pulang.

No More Posts Available.

No more pages to load.