Gubernur Maluku Utara Dikelilingi Jaringan Buzzer, Demokrasi Digital Kian Terancam

oleh -258 views

Peneliti LIPI: Demokrasi Sedang Digerus oleh Buzzer Politik

Di tengah derasnya serangan buzzer, sebagian warga mulai membangun gerakan tandingan berupa akun-akun edukatif yang mengkampanyekan literasi digital dan membedakan antara kritik kebijakan dengan serangan pribadi.

Peneliti di Pusat Penelitian Politik LIPI Wasisto Jati, menilai bahwa keberadaan buzzer yang menyerang akun-akun pengkritik pemerintah telah mencederai demokrasi di Indonesia.

“Saya rasa buzzer ini telah merusak demokrasi. Medsos kan ruang publik baru, semua orang mestinya bisa komentar, posting, like, love. Tapi dengan adanya buzzer ini, mereka seolah menjadi polisi siber,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Menurut Wasisto, fenomena buzzer merupakan ekspresi partisan yang berlebihan terhadap figur politik tertentu. Akun-akun tersebut sering kali bertindak defensif, seolah tak ingin sosok yang mereka dukung dikritik.

Ia menilai, dalam iklim demokrasi, keberadaan buzzer menunjukkan dua hal penting: menurunnya kualitas demokrasi karena tak ada lagi debat terbuka, dan semakin kompetitifnya politik elektoral karena masyarakat terbelah oleh preferensi figur.

Baca Juga  Ekuador Kejutkan Jerman, Belanda Sapu Bersih Fase Grup Piala Dunia 2026

“Masyarakat sadar dan punya nilai-nilai sendiri yang ingin diperjuangkan, tapi tanpa literasi digital yang kuat, yang muncul justru fanatisme,” tuturnya.

Wasisto menambahkan menambahkan bahwa sebagian besar buzzer tidak memahami substansi dari isu yang mereka komentari.

“Peran buzzer makin ekspresif tapi tidak kritis konstruktif, justru destruktif. Mereka menyerang tanpa tahu substansi kritiknya,” ucap Wasisto.

No More Posts Available.

No more pages to load.