Keimanan tetap sederhana. Sistemnya yang menjadi kompleks.
Barangkali yang berubah bukan konsep halal, melainkan dunia tempat halal itu diproduksi, disertifikasi, dan diperdagangkan. Dunia yang semakin terhubung menuntut standar bersama. Dunia yang semakin kompleks menuntut kepercayaan yang lebih transparan.
Dan bangsa ini, dengan populasi Muslim terbesar di dunia, berada di persimpangan antara menjadi pengikut standar global atau menjadi arsitek standar masa depan. Indonesia sebagai pusat halal kini dipertaruhkan.
Di antara takbir menjelang berbuka dan label halal pada kemasan makanan, kita mungkin tidak menyadari bahwa kebijakan publik sedang merumuskan ulang hubungan antara iman, pasar, dan globalisasi.
Puasa menahan lapar. Globalisasi menahan batas. Kedaulatan menemukan bentuk barunya di antara keduanya. (**)
Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 27/2/2026









