Hanubun mengakui, dalam keterbatasan yang ada namun hendaknya ada upaya dan niat tulus untuk terus melayani baik Islam, Protestan, Katolik dengan penuh kasih, karena dengan kasihlah mampu menembus sekat – sekat perbedaan itu.
Kata Hanubun, dalam pekerjaan pembangunan gereja ini, jika ada yang rela menyumbangkan sedikit rejeki sekecil apapun, bahkan dengan modal tenaga pun harus kita hargai.
Dirinya mengutip Roma 12 ayat 1-5 yang berbunyi “sebangsa Osama seperti tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota tubuh itu mempunyai tugas yang sama, begitu pulah kita walaupun kita satu tubuh dalam Kristus, tapi kita adalah masing- masing anggota yang satu tubuh terhadap yang lain”.
Dikatakan Hanubun, gereja bukan sekedar berkumpul dan beribadah, melinkan gereja adalah tempat dimana Tuhan tinggal dan sesungguhnya ada dalam diri setiap orang maka jika mengeluh adalah manusiawi, tapi mengeluhlah pada Tuhan.
“Menyelesaikan pembangunan sarana Ibadah di Kabupaten Malra, perlu adanya kerja sama tiga tunggu dan tidak mungkin dilepas pisahkan yakni adat, agama dan kubni (Adat, Agama dan Pemerintah Daerah), sehingga apa yang menjadi filosofi leluhur dapat terwujud,” tegas Hanubun
Di akhir sambutannya, Hanubun menegaskan, pembangunan Gereja ST. Yacobus ini harus terus dilanjutkan, dan jangan berpikir anggaran dari mana. “Kerja saja dan selaku bupati, Saya optimis penyelesaian sesuai target yakni tahun 2022 akan terealisasi,” ucap Hanubun optimis. (saad)











