“Tolong dinyalain lampunya.”
Seisi kelas makin bingung. Namun tak urung, Jaya yang dekat dengan saklar lampu bergerak memencetnya dan kelas menjadi lebih terang karena di luar memang agak mendung. Mungkin akan turun hujan setelah ini dan Zahra tidak membawa payung. Ia mendesah dalam hati. Zahra tak suka hujan. Meski ia tak mengelak kalau dia suka dengan bau petrichor. Rasanya menenangkan sekali.
“Nah, kalau begini kan terang.”
Pak Rafi mengambil kembali buku absen kelas, melanjutkan mengecek daftar hadir kelas.
“Azzahra Levina.” Pak Rafi memanggilnya, lagi. Bahkan ini sudah ketiga kalinya.
Akhirnya karena kesal, Zahra mengacungkan tangannya dan berteriak. “Hadir!”
Lalu Pak Rafi melihatnya dengan wajah terkejut. “Oh.. Di sana toh ternyata.”
Tanpa bisa dicegah, Zahra bertanya. “Kenapa pak?”
Pak Rafi tertawa kemudian berkata. “Maaf, habis mendung. Jadi ngga kelihatan.”
Sontak semuanya langsung tertawa, kecuali Zahra. Gadis itu justru sangat marah. Saking marahnya, ia sampai ingin menangis. Namun sebisa mungkin Zahra menahannya. Ia tak ingin mereka semakin puas menertawainya.
Zahra memilih memalingkan mukanya ke jendela. Muak melihat Pak Rafi dan teman-temannya yang terpingkal-pingkal dengan ia sebagai bahan tertawan. Hanya karena ia hitam, mereka seenaknya mengolok-oloknya. Ini bukan pertama kalinya Zahra mendapat perlakuan seperti itu. Namun, ia tak bisa berbuat banyak dan hanya diam menyimpan semua amarahnya.




