Bertepatan dengan matanya yang menatap langit abu, hujan turun tanpa gerimis. Seakan langit sedang menumpahkan semuanya. Tak peduli dengan orang-orang di bawah sana yang merutukinya karena kedatangannya yang tiba-tiba. Ia hanya sedang bersedih dan menumpahkan segalanya. Kaca jendela di hadapannya menjadi berembun. Mengaburkan pandangannya yang masih asyik menatap hujan. Tak peduli kalau di depannya, Pak Rafi sedang menjelaskan materi. Ia hanya sedang berpikir mengenai segala hal yang terjadi di kehidupannya hingga saat ini.
Melihat hujan dengan derasnya mengahantam bumi, Zahra jadi ingin seperti hujan yang menumpahkan segala perasaannya tanpa peduli orang-orang di sekelilingnya.
Ternyata saat bel pulang sekolah sudah berbunyi, hujan di luar sana masih tetap berlanjut. Bahkan makin deras. Zahra hanya diam sambil menatap hujan. Teman-teman sekelasnya sudah pulang. Di depan sekolah hanya tinggal dirinya dan beberapa anak yang bernasib sama sepertinya.
Zahra masih diam berdiri menatap rintik hujan. Hingga tangannya terulur menyentuh rintik itu. Ia memejamkan matanya. Menikmati sensasi dingin di telapak tangannya sebelum merambat naik dan menyebar ke seluruh tubuhnya. Ini menyegarkan. Zahra tersenyum.




