Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Zahra menerobos hujan. Membiarkan rintik demi rintik air menimpa kepalanya. Membasahi tubuhnya. Mengalirkan hawa dingin yang menyejukkan. Ini sedikit menghiburnya. Ia pun memejamkan matanya sekali lagi. Merasakan hujan merasuki tubuhnya. Menguak lukanya. Membuatnya menumpahkan segala perasaannya di bawah hujan. Ikut menangis bersama hujan.
Hari sudah malam. Bulan sudah menggantung di langit. Tak lupa bintang-bintang yang berpendar di sekelilingnya. Membuat malam menjadi sedikit gemerlap. Di kamarnya yang temaram, Zahra terdiam di atas kasur. Berbaring telungkup sambil menyembunyikan wajahnya di bantal. Sejak pulang dari sekolah ia tak keluar dari kamar, kecuali mandi, makan, dan salat.
Suara ketukan pintu menarik perhatiannya. Ternyata itu ibunya yang datang mengabarkan kalau temannya, Wati datang ke rumah. Dengan malas, Zahra turun dari kasur minionsnya. Mengambil jaket yang tersampir di dinding lalu memakainya.
“Ada apa Ti?” tanyanya ketika sampai di depan rumahnya.
Wati tersenyum. “Ngga ada. Aku cuman mau ngajak kamu lihat kembang api.”
“Hah? Emangnya udah lebaran ya?”
Wati tertawa. Tangannya melambai. “Bukan. Anak-anak beli kembang api. Jadi aku ngajak kamu daripada di rumah mulu.”
Zahra mengangguk paham. “Oh..”




