“Jadi, gimana? Yuk langsung aja. Kasihan anak-anak sudah pada nunggu.”
“Eh.. gimana ya Ti.”
“Udah ikut aja. Lagian kamu ngga ngapa-ngapain kan di rumah? Mending main sama kita aja. Apalagi sejak masuk SMA, kamu jadi sering ngurung diri di rumah. Jarang main lagi sama aku dan anak-anak yang lain.”
Zahra yang mendengarnya terkejut. Pasalnya Wati ini sangat terang-terangan mengatakan kalau dirinya itu sombong, meski dengan cara halus. Padahal Wati yang dikenalnya sangatlah pemalu dan pendiam. Tapi sekarang, mengkritik sikapnya pun ia sangat berani. Zahra jadi kesal sendiri. Memang, ia banyak mengurung diri semenjak menginjak bangku SMA. Tapi, itu wajar bukan? Karena menurutnya, bermain dengan teman-temannya hanya membuang waktu saja. Lebih baik ia di kamar dan belajar atau bermain game di gadgetnya. Yang tentunya lebih seru dan menghemat tenaga.
“Gimana Ra?” tanya Wati tidak sabaran.
Zahra tersadar dari lamunannya. Ia meringis. “Em.. ayo.”
Setelah berpikir untuk yang kesekian kalinya, Zahra memilih bermain di luar bersama temannya karena ia bosan di kamar saja. Game di gadgetnya pun tak bisa menghiburnya. Mungkin, dengan bermain bersama teman-temannya malam ini bisa membunuh rasa bosannya. Semoga.




