Hitam Putih

oleh -16 Dilihat

Bermain bersama teman-temannya ternyata sangatlah menyenangkan. Itu membuat Zahra senang sekaligus merasa bersalah karena selama ini ia berpikir kalau apa yang dilakukannya sekarang hanya membuang-buang waktu. Ia juga dengan jahatnya selalu menolak ajakan Wati yang senantiasa datang ke rumahnya. Zahra tak habis pikir kalau ia jadi Wati. Pasti sekarang ini, ia sangat membenci dirinya.

“Wati.”
“Hm..” Wati hanya bergumam. Ia terlalu asyik dengan kembang api di tangannya.
“Maaf.” ucapnya sangat lirih. Zahra bahkan tak yakin kalau Wati mendengarnya.
Tapi, lagi-lagi ia salah. “Iya, ngga papa.”
Zahra menoleh. Menatap Wati yang sedang tersenyum manis padanya. Seakan gadis itu baik-baik saja atas apa yang selama ini diperbuatnya. Itu membuatnya makin merasa bersalah. Zahra menundukkan kepalanya, tak kuat melihat wajah Wati.

Baca Juga  Program NZMATES Fase II Diluncurkan, Selandia Baru dan ESDM Perluas Akses Energi Terbarukan di Maluku

“Tapi aku sudah egois selama ini. Aku juga menganggap kalian tidak penting. Aku berubah, Ti. Aku jahat.”
“Iya, kamu memang jahat.”
Zahra yang mendengarnya terkejut. Ia mendongak menatap Wati yang sedang melihat kembang api berpendar di langit. Zahra ikut memandangnya.
“Tapi, aku bersyukur karena kamu sudah sadar.”
Bersamaan dengan meledaknya kembang api, perasaannya menyeruak ke dada hingga membuatnya sesak. Tanpa sadar, air mata sudah mengalir membasahi pipinya.