“Kamu lihat langit itu, Ra? Dia hitam. Kamu lihat bulan dan bintang itu Ra? Mereka cerah. Mereka indah. Bahkan tampak kerlap-kerlip, mengagumkan siapa pun yang melihatnya. Nah, pertanyaannya adalah bagaimana jadinya mereka tanpa langit malam?”
Zahra diam.
“Mereka ngga akan pernah ada. Mereka tak nampak indah di mata orang. Mereka hanyalah sebuah benda angkasa. Tak ada istimewanya.”
“Kok bisa?”
Wati tersenyum sebelum melanjutkan, “Menurutmu, mengapa bulan dan bintang tampak mengagumkan?”
“Karena mereka indah?”
Wati menggeleng kemudian matanya kembali menatap langit malam. “Bukan. itu karena adanya langit malam. Bintang dan bulan tak akan terlihat indah bila tak ada kegelapan yang mendasarinya. Karena sesuatu yang mencolok adalah yang bersinggungan dengan apa yang menurut mereka anggap buruk, jelek, tak berguna. Tanpa adanya warna hitam di dunia ini, mungkin warna putih tak akan pernah ada. Bahkan warna lainnya sekalipun. Mereka saling berhubungan, tak dapat dipisahkan. Kalau di dunia ini hanya ada sekumpulan benda indah. Maka tak ada yang benar-benar indah. Karena semuanya sama-sama indah.”
“Maksudmu, warna hitam hanyalah untuk keuntungan bulan dan bintang saja?”
Wati mengangguk. “Ya. Sebenarnya di sini yang paling membutuhkan adalah bulan dan bintang. Jadi, bersyukurlah atas apa yang dianugerahkan Tuhan kepadamu. Sudah pasti itu yang terbaik untukmu.”
Hitam Putih




