Impian yang Sirna

oleh -443 views

Suatu ketika ia menerima chact darinya.
“Endang, bagaimana kalau cinta kita terdahulu kita sambung lagi?”
“Maksud Mas Parjo kita menikah?”
“Lha iya. Tapi aku sudah bawa anak satu, apakah Endang mau?”
“Yo.., ora popo to.., malahan aku seneng untuk teman bermain. Aku dapat merasakan menjadi seorang ibu.”
“Terus kalau kita kumpul, apakah Endang mau tinggal di Wonogiri?”
“Ya…, aku manut Mas Parjo. Istri kan mesti nurut sama suami.”

Jantungnya berdetak, hatinya mekar bagai bunga yang sedang memamerkan keindahannya. Benang-benang cinta yang pernah disulam akan dirajut kembali. Hidup bersamanya di tanah kelahirannya bukan lagi mimpi indah di siang hari.

Ia menerawang saat-saat indah bersamanya. Waktu itu, ia kelas satu dan dia kelas dua SMA di desanya. Dia orangnya romantis, pandai bergaul dan lebih dari itu dia memang pandai di sekolah. Ada dua gadis yang menaksirnya, Tini dan Parni, tapi dia lebih memilihku. Katanya, wajahku mirip Widyowati, bintang film favoritnya. Cukup banyak kenangan indah bersamanya. Satu kenangan yang tidak terlupakan hingga kini, ciuman pertama dengannya di Waduk Gajah Mungkur. Dia menggenggam tanganku dengan erat, menyusuri jalan setapak di bawah rerimbunan pohon yang berada di pinggir waduk. Dia menghentikan langkahnya di bawah pohon mahoni, menatapku dengan tajam.

No More Posts Available.

No more pages to load.