Sebaliknya, pemerintah Amerika Serikat berdalih operasi militernya merupakan respons terhadap serangkaian serangan terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Ketegangan di kawasan sebenarnya telah meningkat sejak 24 Juni, ketika Oman bersama Organisasi Maritim Internasional (IMO) Perserikatan Bangsa-Bangsa mengumumkan pembukaan koridor pelayaran sementara di sepanjang pantai Oman. Jalur tersebut disiapkan untuk mengevakuasi kapal-kapal yang terjebak di kawasan Teluk dan berada di bawah pengawasan Amerika Serikat.
Namun Iran menolak kebijakan itu karena diumumkan tanpa konsultasi dengan Teheran. Pemerintah Iran kemudian memperingatkan seluruh kapal agar hanya menggunakan jalur pelayaran yang mendapat persetujuan otoritas Iran.
Situasi semakin memanas setelah dua kapal yang menggunakan koridor tersebut diserang beberapa hari kemudian sehingga memaksa IMO menghentikan sementara rencana evakuasi.
Amerika Serikat lalu melancarkan serangan udara ke wilayah pantai selatan Iran pada 26 dan 27 Juni. Sebagai balasan, Iran menembakkan rudal ke pangkalan militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait.
Selat Hormuz Kembali Jadi Titik Konflik
Meski kedua negara sempat menghentikan permusuhan pada 28 Juni dan melanjutkan pembicaraan teknis tidak langsung di Qatar pada 1 Juli, ketegangan ternyata tidak berlangsung lama.











