Sebanyak 288.000 keluarga kehilangan tempat tinggal setelah 223.000 unit rumah hancur dan 130.000 unit lainnya tidak layak huni. Kantor Media mengatakan 261 pusat penampungan juga telah diserang.
Sebagai bagian dari kampanye kelaparan sistematis, laporan tersebut menyatakan pasukan Israel menewaskan 877 warga sipil dan melukai 5.666 lainnya saat menyerang titik-titik distribusi bantuan.
Laporan tersebut juga menyatakan Israel telah mencegah masuknya puluhan ribu truk bantuan selama lebih dari 139 hari berturut-turut.
Sektor pertanian Gaza telah menderita kerugian sebesar USD2,2 miliar akibat hancurnya 92% lahan subur di wilayah kantong tersebut.
Sementara itu, infrastruktur utama seperti air, listrik, sanitasi, dan situs arkeologi telah hancur total.
Menolak seruan internasional untuk gencatan senjata, tentara Israel telah melancarkan serangan brutal di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023, menewaskan hampir 59.000 warga Palestina sejauh ini, sebagian besar perempuan dan anak-anak.
Pengeboman tanpa henti telah menghancurkan daerah kantong tersebut dan menyebabkan kekurangan pangan serta penyebaran penyakit.
November lalu, Mahkamah Pidana Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanannya, Yoav Gallant, atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.











