Setelah Merkus tidak lagi menjabat gubernur, mulai muncul perselisihan antara Sultan Jailolo II dengan Gubernemen Ambon. Pihak Gubernemen menilai bahwa sultan mulai terlibat dengan para bajak laut Tobelo. Pada 1831, Sultan Jailolo II berselisih dengan Komandan Militer Wahai, yang juga menjabat sebagai asisten residen. Komandan militer itu melaporkan kepada Gubernur Maluku bahwa Sultan Jailolo II berencana menyerang Benteng Wahai. Gubernur akhirnya memerintahkan menangkap Sultan Jailolo II, walaupun kemudian dibebaskan karena laporan tersebut didasarkan pada keterangan palsu.
Beberapa saat setelah insiden tersebut, Sultan Jailolo II, Muhammad Asgar, memutuskan pindah dari Seram Pasir karena daerah ini tidak subur untuk pertanian, sehingga banyak rakyatnya yang miskin dan beralih menjadi bajak laut. Ia kemudian mengajukan permintaan kepada Pemeritah Belanda agar ia dan rakyatnya diizinkan kembali ke Halmahera.Ketika berkunjung ke Ambon pada 1832, Sultan Jailolo II mengajukan kembali permohonan pindah ke Obi, pulau yang telah dibeli VOC dari Sultan Bacan.
Sementara pengiku Asgar mendesaknya agar mereka kembali ke Halmahera Timur. Dengan demikian, Asgar dan rakyatnya memiliki keinginan yang berbeda tentang kepindahan itu. Tetapi, permohonan pindah tersebut ditolak Gubernur. Sultan Jailolo II akhirnya memutuskan menempuh jalan sendiri. Ia mengutus adiknya ke Bacan untuk menjajaki kemungkinan pindah, namun upaya ini tidak membuahkan hasil.




