Kasus Kesultanan Jailolo Bentukan Sultan Nuku dari Tidore

oleh -465 views

Pada 1796, Billa ditangkap atas perintah Sultan Kamaluddin, setelah terkuak hubungan yang dijalinnya dengan Nuku. Tetapi, karena campur tangan VOC, Billa dibebaskan. Menjelang penyerbuan Nuku ke Tidore, Billa melarikan diri dan bergabung dengannya. Ia bahu membahu dengan Nuku dalam perjuangan pembebasan Tidore, dan diangkat sebagai salah seorang panglima Nuku yang handal.

Ketika Inggris mengembalikan Maluku kepada Belanda, yang kemudian berkuasa antara 1803-1810, Nuku untuk pertama kalinya menawarkan sebuah perundingan kepada Belanda pada 1804. Perundingan ini ditawarkan Nuku dengan salah satu persyaratan pengakuan Belanda atasKesultanan Jailolo sebagai sebuah kerajaan merdeka dan berdaulat penuh. Bagi Nuku, pengakuan atas Jailolo sebagai salah satu syarat perundingan merupakan suatu kemestian.

Baca Juga  Aksi Kawal Arianto Tawakal Kembali Digelar, Massa Desak Sidang Dikembalikan ke PN Tual

Menurut adat, pengangkatan Sultan Jailolo telah memperoleh persetujuan para bobato Kesultanan Tidore, para bobato Halmahera Timur Weda, Maba dan Patani serta mendapat dukungan bobato Halmahera Utara Jailolo, Sau, Tobelo, Galela, dan Raja Lolodaserta Kao. Dukungan luas seperti itu cukup memberikan keabsahan bagi Billa sebagai Sultan Jailolo.

Tetapi, Belanda menolak tawaran dan prasyarat Nuku.Setelah berita penolakan Belanda tersiar, pasukan Sultan Jailolo di Toniku mulai dimobilisasi untuk menggempur Halmahera Utara. Nuku sendiri merancang rencana penyerbuan,dan Billa ditugasi memimpin serta melaksanakannya. Armada yang akan ambil bagian dalam operasi militer ini direncanakan terdiri dari: