1 juanga Sultan Jailolo,
1 juanga putera-putera Sultan Jailolo,
8 juanga orang Tobelo dan Kao,
6 juanga dari Loloda,
1 juanga dari Tolofuo,
4 juanga dari Sau,
2 juanga dari Galela,
6 juanga dari Patani,
6 juanga dari Weda,
6 juanga dari Tidore, dan
5 juanga dari Papua.
Tujuan operasi adalah untuk memperoleh legitimasi para sangaji di Halmahera Utara bagi Sultan Jailolo. Tetapi, Nuku tidak menyadari bahwa sejak 1635 Jailolo telah lebur dan menjadi wilayah Kesultanan Ternate, yang melakukan pembinaan sedemikian rupa sehingga sangat sulit bagi rakyat di kawasan Jailolo maupun Halmahera Utara mengubah loyalitas mereka kepada Ternate, terutama di kalangan orang Alifuru, walaupun sebagian rakyat Tobelo dan Galela adalah pengikut setia Nuku selama belasan tahun.
Dengan demikian, upaya Nuku menghidupkan kembali Kerajaan Jailolo – dalam kenyataannya hanya merupakan kerajaan vazal Tidore, karena pemerintahan Nuku berada di atasnya tidak sepenuhnya berhasil lantaran orang-orang Alifuru tidak mau mengakui Sultan Jailolo yang ditunjuk Nuku sebagai raja mereka. Orang-orang ini tetap menyatakan kesetiannya kepada Kesultanan Ternate. Hanya beberapa kampung di pantai barat Halmahera yang dapat dikuasai Jailolo.14 Orang Tobelo Tai – yakni Tobelo Boenge dan Tobelo Kao – pimpinan Sangaji Kuwasauwa dan Sangaji Sau mengakui Sultan Jailolo, tetapi Sangaji Galela serta orang Alifuru Jailolo dan Ibu menolak legitimasinya.




