Porostimur.com, Tiakur — Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) kembali menghantui Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD). Fenomena yang nyaris berulang setiap tahun ini kembali memicu keresahan masyarakat. Antrean panjang kendaraan, aktivitas ekonomi yang tersendat, hingga melonjaknya harga BBM eceran menjadi pemandangan sehari-hari, baik di Kota Tiakur maupun wilayah sekitarnya.
Situasi tersebut memunculkan pertanyaan besar di ruang publik: apakah kelangkaan BBM benar-benar disebabkan oleh krisis distribusi semata, atau justru merupakan skenario lama akibat lemahnya tata kelola dan pengawasan sektor energi di daerah?
Antrean Panjang, Rakyat Jadi Korban
Pantauan Porostimur.com di lapangan, Jumat (30/1/2026), menunjukkan warga harus mengantre berjam-jam, bahkan sejak dini hari, hanya untuk memperoleh BBM dalam jumlah terbatas. Tidak sedikit yang terpaksa pulang dengan tangan kosong karena stok habis sebelum giliran mereka tiba.
Kelangkaan ini berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Nelayan kesulitan melaut akibat keterbatasan solar, petani terhambat mengangkut hasil kebun, dan pelaku usaha kecil mengalami penurunan pendapatan. Kondisi tersebut semakin menekan ekonomi masyarakat MBD yang sejak awal hidup dalam keterbatasan akses dan infrastruktur.










