Dijelaskannya, permasalahan kedua yang ditemui pada kedua Kecamatan tersebut yakni adanya ancaman erosi dan abrasi, apalagi saat ini sudah memasuki musim penghujan.
“Di Werinama itu ada erosi sehingga terjadi pengikisan tanah dan ada beberapa kuburan yang sudah jatuh. Di Tunsai dan Abuleta juga terjadi abrasi dan itu mengancam pemukiman warga dan pemakaman umum juga”, bebernya.
Dirinya meminta agar Pemerintah Kabupaten bisa mengantisipasi dengan membangun tanggul penahan ombak maupun talud penahan erosi di aliran sungai.
Permasalahan ketiga yang ditemukan, yang menurutnya sangat krusial yaitu akses penghubung dalam hal ini jembatan.
Kolatlena menuturkan, bahwa di Werinama dan Siwalalat terdapat tiga jembatan sungai besar yaitu jembatan Bobot Masiwang yang pekerjaannya sudah bertahun-tahun tapi tidak ada progres yang baik dan kedua jembatan yang lain yaitu jembatan Wai Pulu dan Wai Tunsa, yang sempat bermasalah di Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN).
“Dengan kondisi dan cuaca saat ini sangat meresahkan masyarakat karena itu satu-satunya akses dan satu-satunya alternatif. Kalau musim ombak begini, masyarakat mau tidak mau harus memaksakan diri untuk menyeberangi sungai meskipun arus banjirnya deras. Harta bahkan nyawa bisa terancam. Oleh karena itu, kami minta BPJN bisa konsisten dengan pernyataannya sehingga bulan Juli, jembatannya sudah ditender, karena ini sudah menjadi kebutuhan mendasar masyarakat yang disana. Jadi jangan lagi diulur-ulur supaya masyarakat bisa terbantu dengan akses yang baik”, tutupnya. (alena)









