Kontraktor PT Hapsari Nusantara Gemilang Dianggap Gagal Kerjakan Proyek GOR Halteng, HCW Harus Ada Tindakan Hukum

oleh -128 views
Link Banner

Porostimur.com | Ternate: Halmahera Coruption Watch (HCW) Maluku Utara (Malut) menilai bahwa proyek pembangunan Gelanggang Olah Raga (GOR) yang berlokasi di Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng) dianggap gagal.

Hal ini disampaikan oleh Direktur HCW, Rajak Idrus kepada Porostimur.com, Ahad (25/7/2021).

Dikatakannya, proyek yang dikerjakan oleh kontraktor ternama, yang biasa disapa Gifari ini dengan menggunakan PT Hapsari Nusantara Gemilang menggunakan anggaran multi years sebesar Rp79.695.000.000.00.

“Proyek pembangunan GOR ini, sudah HCW ikuti sejak awal. Dimana proyek tersebut pertama dikerjakan di Halteng dan HCW sudah berulang kali turun di lokasi proyek, namun proyek tersebut tidak ada peningkatan, padahal proyek tersebut dikerjakan pada tanggal 26 juni 2019 dan masa kontraknya selesai di tahun 2021 ini”, katanya.

Ia pun mengaku, HCW sudah berkoordinasi dengan Dinas PUPR dan PKK Halteng saat proyek tersebut masih dikerjakan dan Dinas PUPR dan PKK sudah pernah menyurat, bahkan memberikan teguran kepada kontraktor secara tertulis agar cepat menyelesaikan proyek GOR yang dimaksud.

Baca Juga  Ini Imbauan Kapolres untuk Masyarakat SBB Saat Malam Takbiran

“Hal ini tidak bisa dibiarkan. HCW sudah mengantongi beberapa dokumen penting dan ini bisa kami laporkan”, ketusnya.

Untuk itu, HCW menilai bahwa kontrak PT Hapsari Nusantara Gemilang sebagai pemenang tender paket GOR tersebut dianggap gagal dan wajib diberikan teguran keras terhadap kontraktor dan perusahaan dimaksud dan perusahaan itu harus diberikan kode merah atau blacklist sebagai perusahaan yang gagal.

Idrus menjelaskan, HCW pun menemukan bahwa PT Hapsari Nusantara Gemilang juga mengikuti tender yang sementara berjalan di ULP dengan nama paket jalan dan jembatan Wayatim Wayaua sebagai pemenang terendah kedua.

“Saya berharap agar ULP dan Pokja dapat mempertimbangkan atau dicoret PT Hapsari Nusantara Gemilang dari sistem LPSE, karena perusahaan tersebut sudah dianggap gagal mengerjakan proyek di Halteng. Jangan sampai hal ini terjadi di Wayatim Wayaua. Masa perusahaan yang gagal diprioritaskan. Perusahaan tersebut dan kontraktor tidak dapat dipertahankan, contoh rill yang HCW temukan adalah pengerjaan proyek multi years GOR Fagoguru di Halmahera Tengah terancam tidak selesai sesuai jadwal kontrak”, pungkasnya.

Baca Juga  Gempa Labuha Magnitudo 7.2, BPBD Malut: 1.104 orang Mengungsi dan 2 meninggal Dunia

Idrus menuturkan, HCW juga meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kejaksaan agar menurunkan tim di lapangan untuk memantau secara langsung proyek pembangunan GOR di Halmahera Tengah.

HCW pun mendukung langkah DPRD Halteng untuk memanggil pimpinan perusahaan, kontraktor, Kadis PUPR dan PKK untuk dimintai klarifikasi dan pertanggungjawaban atas proyek GOR tersebut.

“Dalam pantauan HCW di lapangan, proyek GOR itu sampai saat ini baru pemasangan tiang pancang, penimbunan dan lainnya. Ini beberapa bulan yang lalu juga tidak ada perubahan yang signifikan, padahal proyek itu berakhir 29 Juni 2021”, tutupnya. (alena)

No More Posts Available.

No more pages to load.