Kurban

oleh -233 views

Menurut Gufran Ali Ibrahim, guru besar antropolinguistik Universitas Khairun Ternate, di era media sosial yang bergemuruh – disrupsi, turbulensi sosial ekonomi serta pergolakan politik yang meruncing menyebabkan klaim itu bergeser ke sesuatu yang lebih internal. Penganut agama-agama sibuk berdebat di dalam “rumah” sendiri dengan koreksi dan negasi yang bercampur baur dan makin bias.

Tak aneh jika, kita lebih banyak berdebat dengan gegap gempita apakah Idul Adha tahun ini dirayakan dengan shalat berjamaah di tanah lapang atau mesjid-mesjid pada tanggal sembilan atau sehari setelah itu. Narasi dalam perdebatan-perdebatan itu sekali lagi seolah-olah menegasi hadirnya Tuhan-selfie. Tuhan yang “menyukai apa yang kita suka dan membenci yang kita benci”.

Baca Juga  3 Bendahara Setda Kabupaten Sorong Jadi Tersangka Korupsi Rp54 M, Langsung Ditahan

Perbedaan itu membingungkan karena sejak awal kita memahami agama sebagai doktrin yang kaku, membangun tapal batas yang tak boleh disentuh dan memisahkan mereka yang beriman dalam sebuah ruang suci dimana hukum ditegakkan tanpa kompromi. Tak ada percakapan di luar ruang itu. Kita terkungkung. Bahkan negara tak didengar. Mungkin karena kita telah kehilangan makna bernegara. Bisa jadi karena orang-orang yang mengurus negara terlalu sibuk mewakili Tuhan dalam lisan tetapi abai dalam tindakan. Kata Gufran : “orang-orang merasa seperti baru pulang dari bertemu Tuhan dan bervakansi di surga”.

No More Posts Available.

No more pages to load.