Kurban

oleh -225 views

Gibra merevitalisasi kembali makna berkurban yang paling mendasar yakni “menyembelih hewan dalam diri”. Sesuatu yang tak mudah untuk dijalani. Sesuatu yang dulu sekali, membuat Ibrahim dan Ismail terpilih sebagai manusia paripurna. Saat ini, manusia lebih sering terjebak pada nafsu yang simpang siur. Gamang di antara lupa. Ada hasrat hewani yang meretas akal sehat. Kita tak lagi terhubung. Setiap orang membangun tembok pembatas. Berkurban jadi elitis. Mirip karnaval tahunan di jalan-jalan kota yang sumpek. Kita juga meyakini setiap orang punya kebenaran dan cenderung untuk tidak menghargai yang berbeda. Sosiolog Perancis, Daniel Bensaid menyebutnya sebagai individualisme yang otoriter.

Pemaknaan Hari Raya juga terjebak pada tafsir yang dibatasi waktu. Bukan tentang bagaimana setelah itu. Berkurban mestinya jadi gaya hidup. Bukan sekedar merayakan tetapi memahaminya sebagai “social necessary” yang akan menegasi kebersamaan secara utuh. Berkurban juga bukan tentang berbagi daging yang konsumtif. Berkurban – meminjam pendapat sosiolog Herman Oesman – juga tentang keberanian untuk menyembelih keserakahan demi kesetaraan, menyembelih elitisme demi penguatan kerakyatan, menyembelih komunalisme demi solidaritas sosial, menyembelih pemborosan demi kelestarian, menyembelih hedonisme demi produktifitas, menyembelih kekerasan demi kedamaian dan menyembelih hasrat korup demi keberlangsungan.

No More Posts Available.

No more pages to load.