Lisabata–Patahuwe dan Luka yang Tak Pernah Benar-Benar Kering

oleh -40 Dilihat

Oleh: Dino Umahuk, Penulis, Jurnalis Senior dan Sastrawan Nasional

Jumat, 11 September 2026, petang belum benar-benar turun di Taniwel ketika bara kembali menemukan jalannya. Di antara Lisabata dan Patahuwe, dua negeri yang bertetangga di Kabupaten Seram Bagian Barat, ketegangan yang mula-mula berkelindan dengan persoalan kebakaran lahan berkembang menjadi konsentrasi massa. Api kemudian bukan hanya membakar rumah dan harta benda. Ia seperti membakar kembali sesuatu yang jauh lebih tua: ingatan, kecurigaan, rasa tidak percaya, dan luka yang selama ini mungkin tampak telah mengering, tetapi ternyata belum benar-benar sembuh.

Sejumlah rumah warga Patahuwe dilaporkan terbakar. Aparat gabungan dikerahkan, sebanyak 92 personel diturunkan untuk memisahkan massa dan mencegah pertikaian meluas. Masyarakat diminta menahan diri, tidak melakukan aksi balasan, serta tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi. Kita tentu berharap api segera padam, massa kembali ke rumah, aparat meninggalkan pos, dan kehidupan perlahan kembali ke jalurnya.

Baca Juga  Tiga Jenazah Korban Penembakan di Jayawijaya Dipulangkan ke Kampung Halaman

Tetapi, benarkah persoalannya selesai ketika asap telah menghilang? Saya kira tidak.

Sebab pertanyaan yang lebih penting bukan hanya siapa yang memulai, melainkan mengapa sebuah persoalan yang bermula dari satu peristiwa dapat berubah menjadi pertikaian dua komunitas. Mengapa api kecil begitu mudah menemukan jerami, seolah-olah di bawah tanah telah lama tersimpan bara yang menunggu satu percikan untuk kembali menyala?

No More Posts Available.

No more pages to load.