Matraman, Kekerasan, dan Rapuhnya Kohesi Sosial Indonesia

oleh -33 Dilihat

Begitu batas itu terbentuk, individu perlahan menghilang.

Seseorang tidak lagi dipandang berdasarkan tindakannya, melainkan berdasarkan kelompok yang dilekatkan kepadanya. Kesalahan personal berubah menjadi stigma komunal. Dari sinilah sejarah hampir selalu memulai babak-babak paling gelapnya.

Indonesia mengenal pola itu dengan sangat baik.

Ambon, Poso, Sampit, dan berbagai konflik komunal lain menunjukkan bahwa korban terbesar hampir tidak pernah mereka yang memulai pertikaian. Yang paling menderita justru warga biasa yang sebelumnya hidup berdampingan, bertetangga, bahkan saling mengenal selama bertahun-tahun. Konflik komunal selalu dimulai oleh generalisasi dan selalu berakhir dengan dehumanisasi.

Karena itu, yang paling berbahaya setelah bentrok bukanlah batu atau senjata tajam, melainkan narasi.

Baca Juga  Lima Kades Diperiksa dalam Kasus Bansos Halbar, 35 Kades Masuk Daftar Tunggu

Hari-hari setelah Matraman dipenuhi potongan video, komentar yang menggeneralisasi identitas, serta berbagai unggahan yang lebih sibuk mencari kambing hitam daripada mencari kebenaran. Media sosial mempercepat sirkulasi kemarahan jauh melampaui kemampuan masyarakat untuk melakukan verifikasi. Algoritma bekerja mengikuti emosi, bukan akurasi.

Dalam ruang digital, prasangka sering kali bergerak lebih cepat daripada fakta.

No More Posts Available.

No more pages to load.