Membaca Isyarat Bendera Putih di Aceh

oleh -180 views

Bendera putih itu juga memperlihatkan jarak yang nyata antara pengambil keputusan dan kehidupan sehari-hari warga. Di tingkat kebijakan, penderitaan sering direduksi menjadi data dan laporan. Di lapangan, penderitaan hadir dalam bentuk rumah yang tergenang, dapur yang tidak berfungsi, dan ketidakpastian yang terus berulang. Kesenjangan ini tidak bisa diatasi hanya dengan narasi atau kunjungan simbolik.

Sering kali negara berbicara tentang ketahanan masyarakat dan semangat gotong royong. Namun ketahanan bukanlah sumber daya yang tak terbatas. Ia memerlukan dukungan nyata, terutama dalam situasi darurat. Gotong royong seharusnya memperkuat negara, bukan menggantikan tanggung jawabnya. Ketika ketahanan terus diminta tanpa penopang yang memadai, ia perlahan berubah dari kebajikan menjadi beban.

Baca Juga  Kembali Terlibat Kecelakaan, Anggota DPRD Tual Diduga Alihkan Tanggung Jawab

Jika sinyal seperti bendera putih tidak dibaca dengan serius, yang tergerus pertama kali adalah kepercayaan. Aceh mungkin tidak langsung menunjukkan perlawanan terbuka. Namun pengalaman panjang menunjukkan bahwa pengabaian yang berulang akan meninggalkan ingatan kolektif. Ingatan inilah yang perlahan membentuk sikap skeptis dan jarak emosional terhadap kekuasaan.

Dalam konteks ini, bendera putih sesungguhnya sedang diarahkan kepada rezim yang berkuasa. Bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai teguran terbuka bahwa kesabaran publik bukan sumber daya tak terbatas. Setiap keterlambatan penanganan adalah keputusan politik, dengan konsekuensi sosial yang nyata. Mengabaikannya berarti mempertaruhkan lebih dari sekadar citra atau statistik keberhasilan.

No More Posts Available.

No more pages to load.