“Ah itu… sepertinya ibu bercerita ke tante Devi”
“Ya… Dan mama kakak yang memberi saran untuk mengajak kamu ikut kegiatan ini… jadi apakah kamu sudah membaik?”
“Jika ditanya sudah membaik atau belum, mungkin setengah karena di pikiran masih terngiang”
“Maaf, jika aku bicara seperti ini, apa kamu sedang punya masalah bersama keluarga?”
“Tidak kak”, jawab Ayudia sambil tersenyum dan ia melanjutkan,
“Aku hanya mendengar pembicaraan yang membuat aku berpikir yang tidak-tidak, aku mendengar tanteku menghadiri pernikahan temannya dan ternyata temannya itu menikah dengan ayahku, sedangkan dia tidak pernah menemuiku, apakah ia tidak ingat atau bagaimana?”, ujar Ayudia, kali ini ia berbicara sambil menangis.
Memang sulit jika membicarakan mengenai keluarga. Altha yang tak tega melihat ia menangis, memeluk Ayudia. Altha tidak tau tau menanggapi seperti apa, ia tidak pernah merasakan seperti Ayudia, ia hanya bisa memeluk Ayudia dengan harapan Ayudia akan tenang. Altha tau kalau hal seperti itu tidak mudah diungkapkan apalagi kepada ibunya, Ayudia nampaknya sudah memendam lama perasaan itu dan mungkin ada yang lain sampai ia menangis seperti itu.
“Tapi setelah melihat mereka rasanya aku lega karena masih memiliki ibu dan keluarga. Walaupun begitu, senang bisa melihat mereka tersenyum dan tertawa bersama, mereka sudah seperti saudara satu sama lain”, ujar Ayudia sambil tersenyum melihat anak-anak panti bermain sepak bola tepat di hadapannya.










