Menunggu Hujan

oleh -12 views
Link Banner

Cerpen Karya: Ananda Puspakartika

KAMU masih mau menunggu? mau tetap seperti itu? dia ga akan datang, hujannya deras banget. Ayo kita pulang aja. Kata Risa kepadaku dengan wajah yang kesal.

Aku tak bergemimg tak menjawab sepatah katapun. hanya berteduh di tempat biasanya.
“Sebentar lagi Ris, aku masih mau menunggu, ia pasti datang. Ia sudah berjanji. Kamu pulang aja duluan” jawabku sambil mengadahkan tangan ke atas, menyentuh air hujan yang membasahi telapak tanganku dengan lembut.

Ingatan beberapa tahun silam masih teringat dalam memoriku dengan jelas. Tak ada satupun kejadian yang terlewat. Cerita tentang di bawah hujan. Kisah antara dua orang remaja. Aku masih ingat cerita itu berawal pada awal bulan September.

“Ini pertama kalinya aku hujan-hujanan, ternyata mengasyikan yah hahaha” kata gadis berambut sebahu itu tertawa kecil. Ia masih menikmati tetes hujan yang membuat seragam SMA nya basah kuyup. Ia menari-menari di bawah hujan.

“Hahaha kamu baru tau kalau hujan itu menyenangkan, aku udah lama tau itu. Waktu itu kan aku ajak main hujan-hujanan kamu bilang jangan nanti dimarahin mamah, ada lagi alasan lain nanti masuk angin lah pokoknya alasanmu pada saat itu banyak haha” sahut lelaki itu sambil tertawa. Lelaki yang mungkin sebaya dengan gadis itu. Hanya saja tubuh lelaki itu lebih tinggi sedikit.

“Ya iyalah Aryan waktu itu kan kita masih SD, terus kamu ngajak hujan-hujanan tiap hari gimana mamah ga nasehatin aku coba, katanya jangan ikutan main sama kamu hahaha, padahal kita kan tetangga dekat.” gadis berlesung pipi itu berbicara sewot sambil tersenyum kecut.

“Hahaha benar juga yah pas itu kan aku berhenti ngajak kamu main hujan apalagi waktu itu kita SMP nya beda eh terus bareng lagi pas SMA. Amaya kamu tau kenapa aku suka manggil namamu dengan lengkap, Amaya. Bukan Mey, atau Amey.?”

Baca Juga  Atletico Madrid vs Barcelona, Blaugrana Dipermalukan

“Engga tau, iya cuman kamu yang manggil Amaya yang lainnya manggil pasti mey atau Amey, dulu aku sukanya dipanggil Alka sama nenek. Kenapa gitu?” Tanya gadis itu dengan cuek tanpa memandang mata lawan bicaranya.

“Karna aku suka arti namamu Amaya Alka Sagita. Kamu tau kan arti dari Amaya? Hujan itu artinya dan aku suka hujan” Aryan menyipratkan air hujan ke wajahku.
“Aryan..” aku berteriak dan membalasnya ia pun tertawa.

Entah perasaan apa yang aku rasakan saat itu, jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Ada yang berbeda dari sorot matanya yang tak bisa kupahami, bukan karna dia orang yang kukenal, namun ada sesuatu yang tak bisa kumengerti. Kita berbincang–bincang lalu tertawa dan tersenyum. Pada saat itu aku belum menyadari dia yang telah mengisi ruang di hatiku.

“Amaya, jangan ketawa yah aku dulu pernah berpikiran bahwa hujan itu para bidadari lagi mandi di langit jadi tumpah deh airnya ke bumi hahaha” Aryan sungguh tertawa keras, aku pun menahan tawa sampai mukaku memerah. Baru kulihat sisi lain dari Aryan kapten basket di sekolahku sekaligus teman masa kecilku. Sisi daya khayalnya yang aneh dan kadang aku sendiri pun tak mengerti

“Jangan bilang siapa-siapa ini rahasia kecil di antara kita. Nanti kalau yang lain tahu mereka pasti ngetawain aku. Kamu janji kan?” katanya dengan suara setengah berbisik.
“Baiklah aku janji ga akan bilang pada siapapun. Tapi Ryan, hujan sedang mendengar kita.” sahutku pelan
“Biarkan saja, hujan itu saksi janji kita.”
“Kita akan kesini lagi kan?” aku berbicara sambil menatap matanya.

Baca Juga  Polres & Pemkab Buru Gelar Apel Kesiapan Penanggulangan Bencana Alam

“Iya bawel kita akan kesini dan melihat hujan bersama setiap bulan September tunggu aku yah. Kalau kamu datang duluan ke tempat ini. Tunggu aku sampai benar-benar aku datang. Jangan bosan untuk menunggu.” Aryan mengacak-acak rambutku.

Sore itu hujan sangat deras dan beberapa saat hujan pun mulai mereda. Kami pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan yang berbeda dari hari sebelumnya. Namun janji itu hanya suatu ucapan yang entah kapan harus ditepati oleh si pembuat janji dan si penunggu.

Hal–hal kecil yang ada di sekitar kita ataupun yang kita lakukan kadang terlupa begitu saja, padahal hal-hal tersebutlah yang menjadikan hal-hal besar pada saat ini. Menjadikannya kenangan ataupun luka. Misalnya janji, banyak orang yang menganggap hal itu adalah sesuatu yang kecil dan remeh sering juga disepelekan.

Amaya, maaf keluargaku harus terburu buru pindah ke Yogya, tadi aku mau pamitan tapi kamu masih les, jadi aku hanya bertemu mamahmu dan adikmu. Ingat yah janji kita di bawah hujan. Aku pasti kembali “Aryan”

Dua minggu kemudian Aryan dan keluarganya pindah ke Yogyakarta. Tanpa perpisahan dan tanpa seucap kata pun lelaki itu pergi meninggalkan tetangga masa kecilnya. Gadis yang selalu takut untuk hujan-hujanan dan kini berani melakukan itu. Hanya ada secarik kertas dari lelaki itu yang bertuliskan:

Banyak yang bisa terjadi saat hujan, bisa banjir. bencana, angin kencang ataupun yang lainnya. Tapi kau tahu apa yang paling kubenci saat hujan, mengingat kenangan kita. Bahkan sebenarnya itu bukan kenangan hanya memori usang dan butut yang harusnya aku menguburnya dalam-dalam.

“Ini bukan pertama kalinya kamu nungguin dia, udah saat untuknya berhenti dari kenangan masa kecilmu Mey, lagian cowok macam apa coba yang tiba-tiba hilang kontak selama dua tahun. Padahal sebelumnnya kalian LDR kan baik-baik aja dan berjanji untuk bertemu dua tahun lalu di sini.”

Baca Juga  Sesalkan Pernyataan Gubernur Maluku, Tasrif Tuasamu Harap Murad Ismail Minta Maaf

Risa menyentuh pundakku pelan ia tahu bahwa sahabatnya itu memang keras kepala. Tapi mereka sudah menunggu lebih dari satu jam. Belum lagi hari-hari yang kemarin ataupun tahun-tahun yang telah lalu dan berganti.

Amaya terdian sejenak, ia berdiri dari tempat duduknya. Ia berlari dan membiarkan hujan membasahi seluruh tubuhnya dan ia menari sambil tertawa riang.

“Mey, mau kemana? Apa kamu udah lupa, kamu bukan anak kecil lagi kenapa hujan-hujanan?”
“Ayoo kita pulang Ris tadi kan kamu nyuruh aku pulang, ini sekarang aku akan menuju mobil.”
Risa tersenyum ia tahu sahabatnya sudah berhenti untuk menunggu.
“Iya tunggu aku Mey jangan cepat-cepat larinya. Aku basah nih” Risa berlari-lari kecil mengejar sahabat kesayanganya.

Gadis itu tak pernah lupa ia memang bukan anak kecil lagi, tapi ia tahu bahwa hujan selalu menyenangkan untuknya, meski saat ini sebenarnya ia sangat ingin berteduh tapi ia tak mau. Itu artinya ia membiarkan orang tahu bahwa kini ia sedang menangis, bulir bulir air mata jatuh di pipinya. Lelaki itu tak pernah datang ia ingkar janji.

Hujan menjadi saksi lagi untuk Amaya, ia berjanji untuk berhenti menunggu dan melupakan segala hal tentang kisah di bawah hujan yang terjadi beberapa tahun silam dan juga menghilangkan nama Aryan Bimala Wibisono dari kehidupannya.

Amaya akan selalu berkunjung ke taman kecil ini tapi tujuannya berbeda bukan untuk menunggu dia. Hanya saja Amaya senang di bawah pohon rindang ini menyimpan keberanian untuk hujan-hujanan. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.