Menunggu Hujan

oleh -861 views

“Amaya, jangan ketawa yah aku dulu pernah berpikiran bahwa hujan itu para bidadari lagi mandi di langit jadi tumpah deh airnya ke bumi hahaha” Aryan sungguh tertawa keras, aku pun menahan tawa sampai mukaku memerah. Baru kulihat sisi lain dari Aryan kapten basket di sekolahku sekaligus teman masa kecilku. Sisi daya khayalnya yang aneh dan kadang aku sendiri pun tak mengerti

“Jangan bilang siapa-siapa ini rahasia kecil di antara kita. Nanti kalau yang lain tahu mereka pasti ngetawain aku. Kamu janji kan?” katanya dengan suara setengah berbisik.
“Baiklah aku janji ga akan bilang pada siapapun. Tapi Ryan, hujan sedang mendengar kita.” sahutku pelan
“Biarkan saja, hujan itu saksi janji kita.”
“Kita akan kesini lagi kan?” aku berbicara sambil menatap matanya.

Baca Juga  Bareskrim Limpahkan Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis Kontras ke Polda Metro Jaya

“Iya bawel kita akan kesini dan melihat hujan bersama setiap bulan September tunggu aku yah. Kalau kamu datang duluan ke tempat ini. Tunggu aku sampai benar-benar aku datang. Jangan bosan untuk menunggu.” Aryan mengacak-acak rambutku.

Sore itu hujan sangat deras dan beberapa saat hujan pun mulai mereda. Kami pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan yang berbeda dari hari sebelumnya. Namun janji itu hanya suatu ucapan yang entah kapan harus ditepati oleh si pembuat janji dan si penunggu.

No More Posts Available.

No more pages to load.