Menunggu Hujan

oleh -864 views

Risa menyentuh pundakku pelan ia tahu bahwa sahabatnya itu memang keras kepala. Tapi mereka sudah menunggu lebih dari satu jam. Belum lagi hari-hari yang kemarin ataupun tahun-tahun yang telah lalu dan berganti.

Amaya terdian sejenak, ia berdiri dari tempat duduknya. Ia berlari dan membiarkan hujan membasahi seluruh tubuhnya dan ia menari sambil tertawa riang.

“Mey, mau kemana? Apa kamu udah lupa, kamu bukan anak kecil lagi kenapa hujan-hujanan?”
“Ayoo kita pulang Ris tadi kan kamu nyuruh aku pulang, ini sekarang aku akan menuju mobil.”
Risa tersenyum ia tahu sahabatnya sudah berhenti untuk menunggu.
“Iya tunggu aku Mey jangan cepat-cepat larinya. Aku basah nih” Risa berlari-lari kecil mengejar sahabat kesayanganya.

Baca Juga  Pemkab Malra Lepas Dua Jamaah Haji, Diminta Jaga Nama Baik Daerah

Gadis itu tak pernah lupa ia memang bukan anak kecil lagi, tapi ia tahu bahwa hujan selalu menyenangkan untuknya, meski saat ini sebenarnya ia sangat ingin berteduh tapi ia tak mau. Itu artinya ia membiarkan orang tahu bahwa kini ia sedang menangis, bulir bulir air mata jatuh di pipinya. Lelaki itu tak pernah datang ia ingkar janji.

Hujan menjadi saksi lagi untuk Amaya, ia berjanji untuk berhenti menunggu dan melupakan segala hal tentang kisah di bawah hujan yang terjadi beberapa tahun silam dan juga menghilangkan nama Aryan Bimala Wibisono dari kehidupannya.

No More Posts Available.

No more pages to load.